Cegah Para Kades Korupsi, KAI Siap Turun ke Desa

TASIKMALAYA- Meski saat kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Galunggung (STHG) Tasikmalaya, Asep Mulyana kerap turun ke jalan guna melawan ketidak adilan penguasa terhadap rakyat kecil, tapi dia sukses meraih gelar sarjana.

Rupanya Asmul, biasa dia disapa, mempunyai ‘resep jitu’ untuk sukses kuliah. Ya, dia yang kini menjabat Ketua DPC Kongres Advokat Indonesia (KAI) Kota Tasikmalaya ini tidak hanya mengkonsumsi makanan yang sehat, tetapi juga melahap ilmu pengetahuan dan informasi untuk pikirannya.

“Saya gemar sekali membaca buku. Umumnya, buku yang dibaca adalah buku mengenai pengembangan diri dan buku nonfiksi. Bahan bacaan tersebut menjadi sumber inspirasi dan ilmu yang hebat,” kata Asmul kepada jabarklik.com di ruang kerjanya, tadi siang.

Lahir dari keluarga yang diberkahi rezeki lebih, tidak membuat pria yang juga menjabat Ketua LBH SMKR ini malas menuntut ilmu.

“Memang kita bisa belajar soal keberanian dari sosok yang akrab dipanggil Asmul ini. Semasa kuliahnya beberapa kali teribat bentrok saat berdemontrasi dengan aparat dan pihak yang didemonya. Terlebih saat bersama almarhum Agus Darajat turun di jalanan Kota Tasikmalaya, mereka punya idealisme yang tak bisa dibeli dengan uang,” kata rekan Asmul, Jono Adv.

Tak sekadar belajar, Asmul aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan lembaga bantuan hukum lainnya, sejak masuk bangku kuliah. Namanya pun mulai dikenal di kampus dan aktivis.

Meski jadi aktivis, nilai akademiknya tidak mengecewakan. Dia lulus dan meraih IP yang lumayan.

Saat ini, bersama beberapa rekannya, Asmul mendirikan Law Office Mulyana & Partners yang beralamat di Jl Cieunteung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Meski tergolong masih muda, tapi prestasi dan karir Asmul sebagai pengacara tak diragukan lagi.

Dengan prinsip memperjuangkan kebenaran yang menjadi keyakinan diri merupakan suatu keharusan, Asmul mendapat kepercayaan menangani kasus kontroversial dan kasus penting lainnya.

“Seseorang yang sukses tahu betul apa yang bisa dan tidak bisa dibeli dengan uang. Itulah mengapa mereka menjunjung tinggi nilai kebersamaan dengan keluarga, sesuatu yang dianggap sangat berharga,” ucap Asmul.

Dikatakan Asmul, uang bisa didapatkan kapanpun. Sementara waktu untuk bisa bersama keluarga sangatlah terbatas. Karena itulah dirinya kadang lebih memprioritaskan keluarga.

Saat ini dengan kepemimpinannya, KAI siap turun ke desa untuk membantu mencerdaskan para Kepala Desa dan masyarakat.

“Bukan hanya konsep tentara masuk desa, tapi advokat pun harus turun ke desa, guna mencerdaskan kepala desa dan masyarakat. Itu merupakan sebuah kewajiban, karena seperti kita ketahui, banyak para kepala desa terjerat kasus korupsi. Itu lah yang menjadi konsep dasar, kenapa advokat harus turun ke desa,” ucap Asmul.

Ditambahkan Asmul, untuk teknisnya KAI tidak bergerak sendirian. Tapi merangkul Asosiasi Aparat Desa Indonesia (APDESI) guna memperkuat desa, khususnya dalam bidang hukum. (SZM)***

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web