Dampak Menonton Pasutri Berhubungan Intim, 4 Bocah Meniru Adegan di Ranjang

TASIKMALAYA- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya kini fokus pada proses hukum dan pendampingan enam bocah yang menonton pasutri berhubungan intim.

Pasalnya, setelah KPAID melakukan pendekatan dengan salah seorang bocah yang ikut menyaksikan, terkuak dampak buruk dari tindakan a susila pasutri tersebut.

Ya, empat bocah itu meniru adegan pasutri Kus (25) dan Lia (24) saat di ranjang. Meski tidak sepulgar yang mereka tonton, tapi membuat miris sejumlah kalangan.

“Kita melakukan pendampingan dengan cara pemulihan psikis dan menghadirkan psikolog. Pokoknya kita fokus bagaimana cara menghilangkan ingatan adegan di ranjang pasutri yang kini meringkuk di sel pengap Polres Tasikmalaya Kota,” kata Ato, di kantornya, Kamis (20/6/2019) pagi.

Menurut Ato, untuk proses hukum pihaknya akan mendampingi korban saat diminta keterangan polisi. “Ini penting karena mereka masih di bawah umur dan perlu orang yang memahami kondisi psikisnya,” ujar Ato.

Salah satu hal yang sama tidak terulang, Ato memberi saran agar orang tua back to basic pola asuh di dalam keluarga.

“Misalnya bagaimana kita menjadi panutan atau idola bagi anak-anak. Ini jadi kunci utama untuk menghindari ancaman digital ataupun ancaman kekerasan anak kita,” ujar Ato.

Ditmbahkan Ato, setiap orangtua pasti berharap anaknya memiliki sifat dan perilaku yang sebaik mungkin, bahkan melebihi orangtuanya.

Tak jarang sifat dan karakter anak berupa turunan dari orangtuanya. Misalnya orangtua yang pendiam sangat mungkin mempunyai anak yang pendiam.

Namun, tak sepenuhnya karakter dan sifat anak selalu diturunkan dari orangtuanya. Mendidik anak juga erat kaitannya dengan metode yang tepat. Melalui metode mendidik anak yang tepat, sifat dan perilaku anak dapat dibentuk sesuai yang diharapkan.

Metode tersebut, kata Ato, berupa pola asuh yang tepat. Pola asuh merupakan pola perilaku yang diterapkan orangtua pada anak yang dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu. Pola asuh dapat berupa pola interaksi, penerapan aturan dan sistem reward and punishment.

“Pola asuh seringkali dipengaruhi oleh masa lalu orangtuanya. Dalam mendidik anak, orangtua seringkali mengacu dengan pola didik yang ia terima sewaktu kanak-kanak. Entah menyesuaikan dengan yang pernah ia terima atau justru sebaliknya,” pungkasnya. (SZM)***

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web