Demo Bendungan Leuwi Keris. Ricuh, Akibat Ketua DPRD Kebelet Kencing

TASIKMALAYA – Akibat Ketua DPRD kebelet buang air kecil, aksi unjuk rasa ratusan warga terdampak pembangunan bendungan Leuwi Keris Cineam Kabupaten Tasikmalaya diwarnai keributan. Perwakilan warga sempat terlibat adu mulut dengan anggota dewan yang dianggap melecehkan warga hingga memukul bangku serta melempar bekas kemasan air mineral.

Padahal anggota DPRD menertawakan ketua dewan yang kebelet buang air kecil bukan menertawakan warga yang tengah menyampaikan aspirasi.

Ya, keributan ini terjadi ditengah tengah jalannya audien antara ratusan warga terdampak pembangunan bendungan Leuwi Keris dengan anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya, kemarin siang.

Perwakilan masa terpancing emosinya setelah melihat anggota DPRD yang hadir cengengesan saat Ketua DPRD meninggalkan rapat dengar pendapat.

Selain membentak dan berteriak, perwakilan massa juga sempat melempar bekas kemasan air mineral ke arah tempat duduk anggota dewan. Reaksi berlebihan perwakilan massa justru mendapat perlawanan anggota DPRD. Arif Rahman yang juga Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Tasikmalaya balik menyerang hingga adu mulut tak terelakan lagi.

Beruntung aksi ini tidak berlanjut kontak fisik, setelah Ketua DPRD kembali ke tengah tengah massa untuk mendengarkan aspirasinya.

Perwakilan massa mengaku emosi setelah melihat wakil rakyat tertawa saat jalannya rapat dengar pendapat. Selain dianggap melecehkan, aksi cengengesan angota dewan dianggap tidak menunjukan keberpihakan pada rakyat.

“Kami merasa dikesampingkan. Ketika kita bicara, dia malah cengar cengir. Jika rakyatnya bicara, tolong dengarkan dengan serius,” kata korlap aksi, Evi Hilman.

Lucunya lagi anggota dewan justru cengengesan karena menertawakan Ketua DPRD yang kebelet buang air kecil. Niatnya untuk melanjutkan rapat dengar pendapat justru disambut kemarahan perwakilan massa.

“Saya terpancing dituduh melecehkan mereka. Pelecehannya dibelah mana? Saya hanya menertawakan ketua yang kebelet kencing. Tapi tiba tiba massa marah, seolah olah saya melecehkannya,” kata Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Arif Rahman.

Meski sedikit terganggu, namun keributan berhasil diredam. Ketua DPRD tidak menyangkal dirinya kebelet buang air kecil hingga berujung keributan.

“Itu mah biasalah karena memang mereka berjuang tujuh bulan tidak kunjung selesai. Tadi itu saya bukan mau keluar begitu saja, tapi tidak kuat menahan ingin buang air kecil. Memang negara ini akan kacau jika tidak ada Ketua DPRD,” kata Imat.

Ratusan warga terdampak pembangunan bendungan Leuwi Keris ini kembali mendatangi kantor DPRD Kabupetan Tasikmalaya untuk menyampaikan aspirasinya. Mereka meminta surat rekomendasi anggota dewan untuk menyampaikan aspirasi di depan Istana Merdeka Jakarta.

Selain kecewa dengan ketimpangan harga ganti rugi tanah, massa juga menuntut agar dokumen jual beli lahan Pembangunan Leuwikeris diberikan pihak Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy.

Mereka kecewa ganti rugi lahan hanya dibayar Rp 61 ribu permeter. Sementara warga di Kabupaten Ciamis mendapat ganti rugi Rp 151 ribu permeternya. (SZM)***

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web