Ditolak Apotek Saat Akan Tebus Resep Dokter

Pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) adalah bentuk pelayanan dan tanggungjawab langsung profesi apotek dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pengelola apotek terkena keetentuan yang dimaksud pada Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No.1332/Menkes/SK/X/2003.

Tapi seperti pepatah mengatakan aturan dibuat untuk dilanggar. Ya, itu yang dirasakan saya, ketika membawa resep dokter setelah ibunda tercinta diperiksa.

Kejadiannya, Rabu (5/9/2018) malam, ketika usai membawa ibu saya memeriksa kesehataannya ke dokter Budi, Jl Khoer Afandy Kota Tasikmalaya.

Sang dokter memberi secarik kertas berisi resep yang harus dibeli di apotek. Karena pertimbangan jarak tempuh, akhirnya saya memutuskan untuk menebus resep tersebut di apotek yang berada di RS TMC.

Di apotek yang ditunggui dua wanita itu bukan obat yang saya dapatkan, tapi kekecewaan.

Pihak apotek berkilah resep dokter yang saya bawa tidak bisa ditukarkan, karena dikeluarkan oleh dokter yang tidak praktek di RS TMC. Saya tak habis pikir kembali, kebijakan apotek tidak sesuai dengan ketentuan Kepmenkes yang menyebutkan pelayanannya untuk meningkatkan hidup pasien.

Pihak apotek menyebutkan jika ingin menebus obat disini pasiennnya harus diperiksa di RS TMC. Padahal sudah jelas jika paseinnya telah diperiksa di dokter yang tidak praktek di RS TMC.

Jika memang apotek itu buka 24 jam, seharusnya bukan hanya untuk pasien yang ada di RS TMC. Tapi terbuka untuk pasien yang lain.

Berdasarkan Kepmenkes No.1332/Menkes/SK/X/2003, maka definisi apotek adalah tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian, penyalur ketersediaan dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.

Apotek merupakan suatu institusi yang di dalam pelaksanaanya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai unit pelayanan kesehatan (patient oriented) dan unit bisnis (profit oriented).

Dalam fungsinya sebagai unit pelayanan kesehatan, fungsi apotik adalah menyediakan obat‐obatan yang dibutuhkan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.

Sedangkan fungsi apotek sebagai institusi bisnis, apotek bertujuan untuk memperoleh keuntungan dan hal ini dapat dimaklumi, mengingat investasi yang ditanam pada apotek dan operasionalnya juga tidak sedikit.

Pada saat ini kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang berfokus pada pasien yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Disini peran apoteker diharapkan dapat menyeimbangkan antara aspek klinis dan aspek ekonomi demi kepentingan pasien.

Ruki Munanggar
Cibeureum, Kota Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web