Kampung Naga, Salah Satu Pemukiman Tradisional Rakyat Parahyangan (2)

Laporan: Fahira Ayu Natasya

Aku terus mengorek tentang tertutupnya warga Kampung Naga dengan tamu dari luar. Endut bercerita lagi. Dulu pemerintah sempat berembuk dengan warga Kampung Naga. Pemerintah juga menyerahkan bantuan listrik tenaga surya sebagai pengganti minyak tanah. Tapi bantuan itu ditolak warga Kampung Naga. Mereka tetap berharap pemerintah bersedia menyediakan minyak tanah murah dan terjangkau bagi warga Kampung Naga. Ya, seperti biasanya warga adat Kampung Naga hidup dengan penuh kedamaian dan ketenangan.  Namun kini mereka sedang diliputi masalah. Karena minyak tanah untuk penerangan mulai sulit diperoleh serta mahal. Alat penerangan seperti patromak dan jerigen minyak tanah pun tergantung tanpa ada minyak tanahnya.

Untuk mengatasi persoalan penerangan di Kampung Naga, Pemerintah Propinsi Jawa Barat menawarkan bantuan listrik tenaga surya.

“Mereka juga membawa peralatan lengkap. Namun ditolak warga adat Kampung Naga dan kami hanya berharap ada bantuan berupa minyak tanah,” kata Endut.

Pengakuan Endut, alasan mereka tidak menerima listrik untuk penerangan, karena dianggap akan merubah prilaku masyarakat adat. Akibat dampak dari masuknya listrik ke Kampung Naga. Sementara warga Kampung Naga masih kuat menjaga adat istiadat yang merupakan warisan para leluhurnya.

“Setelah listrik masuk ke Kampung Naga, maka akan timbul kecemburuan sosial di masyarakat diantara warga Kampung Naga. Sementara kami menjaga kesamaan dan kesederhanaan antar warga adat Kampung Naga.

Ya, Kampung Naga, salah satu permukiman tradisional rakyat Parahyangan. Berarsitektur adaptif, menyelarasi lingkungannya. Terletak di lembah subur, di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dusun ini dibatasi hutan, sawah, dan aliran sungai Ciwulan. Jika akan masuk ke kampung ini kita harus menapaki 300 anak tangga yang berkelok.

Kampung Naga yang sekarang adalah permukiman baru yang dibangun, setelah kampung lama dibumihanguskan oleh gerombolan DI/TII Kartosuwiryo tahun 1956. Termasuk benda sakral, senjata adat, buku sejarah Naga, semuanya berbahasa Sansekerta. Akibatnya, penduduk tak tahu lagi asal usul nenek moyang mereka menamai desa mereka Kampung Naga.

Namun demikian, mereka tetap kuat memegang dan memelihara tradisi adat Naga. Saat kampung dibangun kembali, desain rumah sedikit berubah; jendela ditambah pada setiap hunian. Dusun ini prototipe kampung Sunda dengan pola perkampungan khas masyarakat yang sudah maju.

 

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web