Kedai Kopi ‘Skala’ Tempat Ngumpulnya Pecinta Musik di Tasik

TASIKMALAYA- Aroma kopi yang harum akan membangkitkan semangat penikmatnya. Tak heran kopi menjadi salah satu minuman paling populer di dunia. Belakangan, kopi yang dulunya identik sebagai minuman orang tua justru menjadi minuman yang sangat digemari generasi muda.

Jenis minuman kopi populer di Tasikmalaya adalah V60, iced coffee atau kopi susu, cappuccino, latte dan Americano.

Lantas apa yang paling penting bagi sebuah kedai kopi?  Kualitas kopi, kebersihan, furniture yang nyaman dan musik.

Di kedai kopi Skala, musik menjadi pilihan agar tamu merasa betah setelah duduk di sofa yang nyaman.

Menurut pemilik kedai kopi Skala, Ervin dirinya sudah lama konsen dalam usaha studio musik. Awalnya, pengetahuan tentang usaha itu memang gelap. Ervin akhirnya  melakukan survei ke beberapa tempat guna mengetahui faktor apa saja yang membuat pengunjung merasa betah di warung kopi.

Hasilnya, Ervin mempunyai  lima faktor yang wajib dimiliki pengelola rumah kopi. Yaitu kebersihan, aroma (dan kualitas kopi), pencahayaan yang cukup, furniture yang nyaman (interior) dan pemandangan di luar kedai kopi alias posisi kedai kopi itu sendiri serta musik.

Pengetahuan pengelola kedai kopi tentang musik yang diputar, sangat berpengaruh dan bisa menentukan rasa nyaman seorang pengunjung. Sebaliknya pemutaran musik yang salah akan membuat pengunjung merasa terganggu. Ujung-ujungnya tak betah, pulang dan memutuskan tak akan pernah mampir lagi.

“Jadi menurut saya, selain memiliki pengetahuan tentang kopi, seorang pemilik atau pengelola kedai kopi seharusnya memiliki pengetahuan yang memadai tentang musik, apa yang seharusnya diputar,” kata Ervin, disela –sela melayani pelanggannya di kadai kafe Skala di kawasan pertigaan Jati, Incdihiang, Kota Tasikmalaya, Kamis (25/10/2018) siang.

Soal interior, diatur sehingga pengunjung merasa nyaman Ibarat ngopi di rumah sendiri.

Sekarang sudah banyak sekali kedai kopi di Tasikmalaya. Para pengelolanya punya kesamaan: menyediakan kopi yang baik, nuansa yang tenang, furniture yang nyaman dan musik yang enak didengar.

Bahkan seorang bernama Ng Tsu Jin melakukan penelitian berjudul, The Correlation between the Genre of Background Music and the Customer Experience of Coffee Drinking in a Cafe. Kalau diterjemahkan: Hubungan Antara Genre Musik dan Pengalaman Konsumen Mengenai Minum Kopi di Kafe.

Tsu Jin melakukan penelitian dengan serius. Ia memakai literatur yang lumayan banyak. Seperti memakai teori pengaruh musik terhadap persepsi dan perilaku konsumen. Ia juga memakai dalil Musical Fit dalam dunia pemasaran. Yakni musik haruslah sesuai dengan konteks waktu dan tempat diputar, untuk memperbesar pengaruh pada konsumen. Tsu Jin membatasi penelitiannya pada rumah kopi independen.

Hipotesa Tsu Jin menarik, meski sebenarnya tidak kekinian. Yakni, memutarkan genre musik yang tepat, bisa mempengaruhi kepuasan konsumen dalam sebuah kafe, dan bisa meningkatkan penjualan. Tsu Jin menulis bahwa jazz dan indie pop adalah dua genre musik paling pas diputar di rumah kopi, terutama rumah kopi independen.

Ini karena rumah kopi independen punya keunggulan ketimbang rumah kopi waralaba. Rumah kopi independen biasanya menawarkan suasana yang lebih hangat, ramah, bersahabat, dan lebih santai. Ini cocok dengan musik jazz dan indie pop. Ini juga ada penelitiannya.

Sementara itu, salah seorang pegiat musik yang sudah malang melintang pentas di kafe, Heri Black menyebutkan kecenderungan ngopi bersama teman-teman atau kolega kini kian meningkat.

“Menyusun musik yang bisa disukai oleh semua kalangan itu sangat penting jika kita akan membuka kedai kopi. Mungkin dalam bahasa gaulnya wajib. Musik coffee house adalah lebih pada kombinasi dari semua genre yang bisa dimainkan di kedai kopi,” ucap Gitaris The Ende Band ini.

Ditambahkan Heri, genre-nya tentu saja bisa beragam. Dari jazz, soft rock, indie pop, blues, atau alternatif. Tapi yang patut dingat: lagunya harus bisa membuat pengunjung merasa rileks; tidak menganggu obrolan atau pekerjaan. “Tapi sekaligus tidak terlalu pelan dan hindari mendayu agar pengunjung tidak mengantuk atau melenoy,” pungkas Heri. (SZM)***

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web