Menelusuri Perekrutan Penjualan Manusia. Wanita Asal Priangan Timur jadi PL di Tangerang

Laporan: Hamami Dut
TANGERANG – Warga Kota Banjar Jawa Barat sempat dihebohkan dengan upaya polisi membongkar jaringan sindikat perdagangan manusia lintas provinsi. Pengungkapannya setelah empat orang yang berhasil diselamatkan dari tempat prostitusi di daerah Pasuruan Jawa Timur.

Tiga tersangka yakni IL, AN, dan AR dibekuk Unit Reskrim Polres Banjar. Mereka mempunyai peran berbeda, IL sebagai perekrut, AN sebagai perantara dan AR sebagai germo yang menampung perempuan. Empat korban oleh tersangka dijadikan Pamandu Lagu (PL) karaoke dan pekerja seks komersial (PSK).

Seperti apakah perekrutan yang biasa dilakukan tersangka kasus perdagangan manusia? Sebagai pembanding kasus, Jabarklik.com menelusurinya hingga ke tempat karaoke di Tangerang yang kebetulan dua wanita asal Banjar bekerja di tempat tersebut.

Ya, setelah kembalinya para korban perdagangan manusia, kini terungkap, jika di tempat hiburan malam di Tangerang banyak juga para PL dari Banjar, Ciamis dan Tasikmalaya. Mereka berada di sana terjebak rayuan gombal penyalur. Semula penyalur menyebutkan akan dipekerjakan di restoran dan hotel. Tapi ternyata di tempat karaoke.

Itu terungkap dari pengakuan Nanda (20). Ia yang warga Pataruman Kota Banjar ini dipekerjakan sebagai PL. Padahal awalnya diiming-imingi akan dikerjakan di restoran mewah. Di tempat kerjanya di karaoke yang berda tak jauh dari Grand Serpong Mall, Tangerang. Nanda kerap bertemu dengan para PL lain dari Kota Banjar, Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis. Meski mereka berbahasa Indonesia namun logat khas Sundanya tetap kentara.

Sebagian besar nasib mereka sama dengan Nanda. Mulanya dijanjikan mendapatkan pekerjaan di restoran atau hotel, namun akhirnya malah terdampar sebagai PL di tempat karaoke.

Dikatakan Nanda, kala ia dikirim ke Tangerang tengah butuh pekerjaan untuk membantu pengobatan ayahnya yang sakit.

Dengan terpaksa, Nanda harus melayani napsu birahi hidung belang setiap hari. Untuk sekali sewa, hanya menerima upah Rp 200 ribu, per dua jam. Namun itu hanya untuk booking selama menjalani profesi sebagai pemandu lagu saja. Lain lagi ketika ia melayaninya di ranjang, harganya di luar tarip.

“Tarip upah oh no oh yes nantinya dipotong mucikari. Jadi dipastikan nasib para PL, tercekik,” lirih Nanda, Jum’at (20/10/2017) dinihari.

Ditambahkan Nanda, umumnya wanita asal Priangan Timur yang terdampar di tempatnya bekerja menginginkan pulang ke kampung halaman. Tapi karena tidak ada pilihan pekerjaan lain, terpaksa jadi PL dijalani. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web