Menelusuri Perekrutan Penjualan Manusia. Mucikarinya ‘Nyamar’ Jadi Tukang Pijit

Laporan: Hamami Dut
TANGERANG- Tak terasa sudah hampir empat jam berada di room karaoke ditemani salah seorang korban penjualan manusia, Sarah. Jam menunjuk pukul 03,00 WIB dinihari. Hampir semua room karaoke yang berada tak jauh dari Grand Serpong Mall, Tangerang ini sudah tutup. Usai dari tempat hiburan malam, Sarah mengajak ke Hotel Mandala di Jl Sitanala 1 Kota Tangerang, Banten.

“Aku punya cerita tentang kehidupan Mamah Nonik, otak pelaku penjualan manusia. Tapi ngobrolnya disana saja,” kata Sarah. Untuk mengetahui sejauh mana praktek penjualan manusia, jabarklik.com mengiyakan ajakan Sarah.

Tiba di hotel Mandala, Sarah sudah akrab dengan office boy dan beberapa orang yang tengah duduk di ruang loby hotel. Setelah mendapatkan kunci, satu kamar deluxe menjadi saksi dimana Sarah cerita tentang keseharian Mamah Nonik, orang yang telah menjualnya dan menjerumuskannya ke lembah hitam.

“Saya sudah lama tidak pulang ke Tasik. Saya masih ingat di Jalan Yudanegara berdiri Hotel Mataram. Tempat itulah yang menjadi sumber penghidupan Mamah Nonik,” Sarah memulai ceritanya.

Rutinitas keseharian Mamah Nonik pun terungkap di hotel tersebut. Ia mucikari. Liku-liku perjalanan kelam Mamah Nonik memang menarik. Rumah yang ditempati bukan milik Mamah Nonik. Tapi ia ngontrak. Meski hanya kredit Mamah Nonik mempunyai sepeda motor. Dan sepeda motor itu biasa dirental para ‘wanita asuhannya’. Mamah Nonik tidak bisa mengendarai sepeda motor. Sepintas orang tidak akan menyangka kalau ia mucikari. Karena setiap hendak bekerja Mamah Nonik berpakaian rapi.

Ia mengenakan busana muslim, plus krudung. Ketika ada mobil yang dikendarai hidung belang, Mamah Nonik replek. Terlebih kalau mobil itu berhenti. Mamah Nonik menghampiri. Dengan sopan ia berucap, “Bos mau dipijit atau nyari ABG untuk selimut? Ada anak saya, Ayu Sri Rahayu namanya. Orangnya cantik. Dia masih muda,” tawarnya.

Ketika si tamu hanya ingin dipijit, Mamah Nonik sigap. Nah, dalam pemijatan di dalam kamar hotel, ia mulai menggoda. Tangan halus Mamah Nonik liar menyentuh otot rangsangan birahi. Jika si tamu benar-benar terangsang, ia akan kembali menawarkan ‘anak asuhnya’.

Bisa ditebak. Tawar menawar pun terjadi. Setelah sepakat, Mamah Nonik akan ngeloyor untuk membawa Ayu. Kemudian dipersembahkan pada tamunya. Di kalangan para pegawai hotel tempat Mamah Nonik mijit, ia dikenal loyal. Jika mendapat tamu, Mamah Nonik akan bagi-bagi rezeki. Meski hanya sebungkus rokok tapi membuat pegawai hotel senang.

Sebenarnya sebelum Mamah Nonik menjerat Sarah dan Sinta, ia pernah ada yang nawarin memasok wanita ke Pulau Dewata Bali. Dedi Supriadi namanya. Ia warga Ciawi Kabupaten Tasikmalaya.

Hanya saja Dedi sudah lama menetap di daerah Sanur Bali. Suatu ketika Dedi yang bekerja di kafe ini mendapat perintah bosnya untuk mencari perempuan muda. Sedianya wanita muda itu akan dipekerjakan di kafe. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web