Nuansa Magis di Pertunjukan Seni Ebeg

BANJAR – Kala menyaksikan pertunjukan seni Ebeg, tak jarang secara refleks tangan, kepala, kaki, dan anggota tubuh penonton yang lain ikut bergoyang dalam alunan harmoni musik itu. Mereka yang mengetahui tembangnya pun biasanya turut hanyut untuk ikut berdendang bersama.

Hebatnya, area pementasan tidak akan ditinggalkan penonton sebelum bagian akhir dari pentas seni Ebeg ditampilkan.
Pada bagian akhir pentas itu, para penari akan terlihat seperti kehilangan kesadaran seolah-olah kemasukan setan. Mereka pun mempertontonkan aksi yang cukup menegangkan seperti mengunyah beling, menginjak atau memakan bara api, dicambuk hingga ditebas dengan golok.

Tingkah lucu yang diselingi guyonan khas kekinian kerap terlontar dari para pelakon. Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, kesenian kuda lumping ini merefleksikan semangat heroisme sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Perkembangan jenis seni budaya tersebut salah satunya dipicu letak geografis Kota Banjar yang berbatasan langsung dengan wilayah Jawa Tengah. Wilayah Kecamatan Langensari dan Purwaharja menjadi dua kecamatan yang paling terdampak atas akulturasi budaya itu mengingat wilayahnya berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Perkawinan antar suku Sunda dan Jawa sampai migrasi penduduk mempunyai andil besar dalam perkembangan kultur masyarakat Kota Banjar, terutama di Kecamatan Langensari dan Purwaharja itu. (din)***

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web