Polisi ini Belajar Hidup dari ‘Ngigelan Zaman’

TASIKMALAYA – Sebelumnya mungkin warga Tasikmalaya, Jawa Barat tidak mengenal sosok Iptu Iwan Cahyadi. Tapi sekitar tiga tahun lalu namanya sempat mencuat setelah membongkar beberapa kasus kriminal di Tasikmalaya.

Ya, waktu itu Iwan Cahyadi menjabat Kaur Bin Ops Satreskrim Polresta Tasikmalaya. Di kalangan anggota geng motor laki-laki kelahiran Tasik utara ini cukup disegani. Pasalnya, setiap aksi brutal geng motor dipastikan diungkapnya hingga tuntas.

Namun siapa sangka dibalik sepak terjangnya yang tidak tebang pilih, tersimpan jiwa sosial yang tinggi. Hampir satu minggu sekali polisi angkatan lima belas ini membawa sekitar 30 paket sembako untuk dibagikan kepada para penarik becak, penyapu jalan dan warga kurang mampu di kawasan Tugu Adipura, Jalan KH Zaenal Mustofa, Kota Tasikmalaya.

Pembagian sembako tersebut sebagai rasa syukur atas rezeki yang selama ini diterimanya. Sesuai dengan moto Tasik Bersedekah yang diaplikasikan di lapangan dengan cara seperti tersebut. Diharapkan tidak hanya slogan, namun juga diikuti oleh para agnia lainnya untuk mengungkapkan kedermawanannya dengan cara apapun,” kata Iwan.

Terkait kisah dirinya hingga masuk korp seragam coklat, Iwan menyebutkan sebelumnya tidak terpikirkan untuk menjadi anggota Polri.

Tapi setelah malang melintang menjadi bagian dari Polri, Iwan ingin membawa perubahan positif terhadap wibawa dan image anggota Polri. Kepolisian tidak hanya mengandalkan penampilan namun harus ditunjang dengan kemampuan dalam mengungkap kasus.

“Intinya, pengungkapan bagus, tapi penampilan tidak bagus, juga akan percuma. Jadi, keduanya harus bagus. Komandan keren itu sudah biasa tapi anak buah lebih keren itu luar biasa,” kata Iwan.

Dalam memimpin suatu satuan Iwan memiliki karakter tegas. Terlebih jika anak buahnya melakukan pelanggaran, misal ngeumel dia tak segan segan menegur.

Polisi yang sebelumnya menjabat Kanit Dikyasa Satlantas Polresta Tasikmalaya ini memiliki teori kepemimpinan dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung’. “Haruslah mengikuti, menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita. Kalau kita melawan arus, maka terkadang kebawa arus juga, he he,” selorohnya.

Iwan punya kisah menarik terkait mengungkap kasus pembunuhan. Kala itu anak buahnya mengajak ke tempat orang pintar (paranormal) untuk mengungkap pelakunya. “Dulu istilahnya kirduk kepanjangan ‘kira kira dukun’. Katanya sih guna mengungkap pembunuhan secara konvensional. Paradigma itu saya ubah. Pelan tapi pasti, olah TKP dan investigasi ilmiah serta ditunjang ITE, saya kedepankan untuk mengungkap kasus,” ujar Iwan.

Bapak dua anak ini telah menunjukan pada kita kudu bisa ‘ngigelan zaman’. Jangan sampai ketinggalan zaman yang tengah kian maju. Jika kita tidak mengikuti zaman akan ditinggalkan orang. Seperti kata Iwan, jika zaman ‘diigeulan’ kita akan turut trendnya zaman sekarang. Tapi jika sebaliknya kita akan ditinggalkan zaman. (Pian M) ***

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web