Ulama PBNU Dukung Dedi Mulyadi Jadi Gubernur Jawa Barat

JAKARTA – Ketua Lembaga Takmir Masjid Nahdhatul Ulama Kiai Mansyur Syairozi menyebut Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi layak menggantikan Gubernur Jawa Barat saat ini, Ahmad Heryawan.

Hal ini dia ungkapkan di sela sambutan dalam Acara Seminar Nasional Sarung Nusantara yang digelar di Kantor Pengurus Besar Nahdhatul Ulama, Jalan Kramat Raya, Jakarta.

“Saya ini lama bersama Kang Ahmad Heryawan, saya dulu ikut kampanye untuk beliau hingga akhirnya berhasil. Sekarang ini, Kang Ahmad Heryawan sudah waktunya diganti, karena sudah dua periode. Saya usul bagaimana kalau yang menggantikan beliau itu Kang Dedi Mulyadi,” ucapnya kepada seluruh peserta seminar.

Dalam kesempatan tersebut ia juga menyerukan agar siapapun warga Nahdhatul Ulama yang berdomisili ataupun memiliki saudara di Jawa Barat, agar memilih Dedi Mulyadi pada perhelatan Pilgub Jabar 2018 mendatang.

“Jadi, siapapun yang memiliki sanak saudara di Jawa Barat, nanti harus memilih Kang Dedi,” tambahnya sambil tersenyum.

Seruan salah satu Kiai yang berpengaruh di internal Nahdhatul Ulama ini bukan tanpa alasan. Ia menilai kelayakan Dedi yang saat ini masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta tersebut dari segi program yang saat ini tengah digulirkan yaitu pendalaman kitab suci al Qur`an dan Kitab Kuning bagi seluruh pelajar muslim di Purwakarta.

“Di Purwakarta itu pelajar belajar baca kitab kuning. Semoga banyak santri terlahir disana,” katanya menambahkan.

Pendapat Kiai Mansyur pun turut diamini oleh Kiai Abdul Manan yang mewakili Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Siradj. Ia bahkan menyebut konsepsi pembangunan di Purwakarta sangat sesuai dengan pandangan fiqih yang dimiliki oleh Imam Syafi`i, salah satu dari empat Mujtahid Mutlak yang pandangannya menjadi rujukan bagi kalangan Sunni di Indonesia.

“Belum tentu kita ini para kiai bisa seperti Kang Dedi, saya mendengar pidato beliau saat menggelar Seminar Islam Nusantara di Purwakarta. Kata beliau, Air di Purwakarta itu asalnya thohir muthohir (suci mensucikan.Red), harus tetap menjadi thohir muthohir,” tandasnya.

Dedi Mulyadi sendiri hadir dalam acara tersebut dalam kapasitasnya sebagai warga NU yang juga budayawan Sunda. Ketua Lesbumi NU Kiai Agus Sunyoto dan Akademisi NU Prof DR Imam Prayoga pun terlihat membahas sarung baik dari aspek falsafah, sejarah bahkan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai salah satu identitas kebangsaan. (LIS)***

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web