BANDUNG — Kehadiran Seklem AAL di SMP Nasional Bandung berawal dari undangan Kepala Sekolah Hj. Doris Aviani, S.Si., M.Pd. Agenda kuliah umum itu menyasar dua hal sekaligus: penguatan karakter pendidik dan peningkatan kompetensi siswa didik.
Asep tidak hanya berbicara soal bela negara. Ia membuka sesi dengan cerita personal soal latar belakang pendidikannya yang bukan dari sekolah elite.
Kisah itu ia sampaikan langsung untuk mematahkan anggapan bahwa sekolah swasta jadi penghalang meraih posisi tinggi.
"Kita tidak perlu rendah diri atau minder jika bersekolah di swasta. Saya sendiri merupakan lulusan SMP swasta, namun terbukti bisa menjadi Laksamana Pertama, menjadi doktor, dosen, dan perwira tinggi Angkatan Laut," ucap Asep di hadapan para siswa.
Ia menegaskan pencapaian tersebut bukan hasil instan. Ada proses panjang berisi kedisiplinan, ketekunan, dan kemauan mengasah kompetensi diri yang harus dilalui.
Asep menyoroti tantangan generasi muda masa kini, terutama masifnya arus informasi digital dan ketergantungan terhadap gawai. Ia meminta pelajar mampu membatasi diri agar tidak melupakan kewajiban utama untuk belajar.
Ia juga berpesan agar siswa bersikap kritis dan menjauhi berita bohong atau hoaks yang kerap menjadi instrumen pemecah belah persatuan bangsa.
"Anak-anak harus mampu membatasi diri agar tidak lebih dominan memegang HP daripada fokus belajar. Saya juga berpesan agar mereka menjauhi berita hoaks, karena itu adalah bentuk pemecah belah persatuan bangsa yang belum tentu kebenarannya," tegasnya.
Melihat para pelajar hari ini sebagai pemegang estafet kepemimpinan masa depan, Asep mendorong mereka mulai membangun branding diri yang positif.
Langkah awalnya bisa dimulai dari menjaga pergaulan secara selektif. Ia juga meminta siswa menghindarkan diri dari narkoba, perjudian, pergaulan bebas, dan tindakan terlarang lainnya.
Bagi siswa yang memendam impian berkarier di jalur militer, Asep memberikan tips khusus. Prestasi non-akademik dan kompetensi tambahan di luar jam sekolah dinilainya bisa menjadi nilai tambah yang signifikan.
"Sertifikat prestasi dari berbagai bidang, seperti Paskibra, pencak silat, hingga kompetensi komputer, dapat menjadi modal penting. Militer masa depan bukan lagi mengandalkan kekerasan, melainkan intelektualisme," ulasnya.
Ia pun mendorong penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris, mengingat lingkup penugasan TNI AL yang berskala internasional. Salah satu contohnya melalui pelayaran muhibah diplomasi Kartika Jala Krida.
Kecerdasan intelektual dan prestasi setinggi apa pun, kata Asep, harus dibarengi adab dan fondasi karakter yang kuat. Sifat sidiq, amanah, fathonah, istiqomah, serta rasa hormat kepada orang tua dan guru wajib dijunjung tinggi.
"Keras di militer itu artinya disiplin sesuai aturan, bukan kekerasan fisik. Di lembaga kami, pembulian dan kekerasan sangat dilarang. Kita fokus pada pembentukan karakter yang tangguh namun tetap beradab," pungkasnya.