DEPOK — Anak-anak TK Siti Maryam tidak hanya menyebut nama tanaman pagi itu. Mereka mengamati bentuk cabai, singkong, pisang, mangga, pepaya, dan kacang yang tumbuh di kebun sekolah, lalu membandingkan bagian yang tumbuh di atas dan bawah tanah.
Setelah mengenali tanaman, siswa diajak menanam singkong dan kacang untuk dirawat bersama hingga nantinya dapat dipanen. Pengalaman langsung itu membuat tanaman tidak lagi sebatas gambar atau materi di buku.
Jarak anak dengan pertanian semakin terasa ketika lahan pertanian di perkotaan berkurang. Data menunjukkan luas sawah di Depok turun dari sekitar 135 hektare pada 2021 menjadi 61 hektare pada 2024, atau menyusut sekitar 54,8 persen.
Kondisi itu membatasi kesempatan anak mengenal tanaman, proses menghasilkan pangan, hingga kerja petani. Kebun sekolah di Kelurahan Curug pun menjadi ruang belajar alternatif bagi siswa.
Kepala TK Siti Maryam Sigit Subiyanto menyebut kegiatan menanam sebagai cara sederhana mengenalkan kerja petani melalui pengalaman langsung. Anak-anak diajak memahami ada proses panjang sebelum makanan dapat dikonsumsi.
"Anak-anak perlu mengenal bahwa di balik pangan yang mereka konsumsi ada petani yang menanam, merawat, dan bekerja keras, hasil kerja tersebut kemudian dapat dinikmati oleh masyarakat. Karena itu, Hari Tani Nasional kami manfaatkan untuk menanamkan rasa syukur sekaligus penghargaan kepada petani Indonesia," katanya.
Berkebun bukan pengalaman baru bagi siswa TK Siti Maryam karena kebun telah menjadi bagian dari pembelajaran sekolah. Aktivitas itu dikembangkan lewat konsep pertanian terpadu yang mengenalkan berbagai proses kepada anak.
Selain tanaman sayuran, anak-anak diperkenalkan dengan pemeliharaan ikan lele, ayam, dan maggot. Hasilnya pada kesempatan tertentu digunakan dalam kegiatan memasak bersama atau cooking class.
Kegiatan berkebun biasanya berlangsung pagi hari sebelum anak mengikuti pembelajaran di kelas dan sarapan. Pola itu membuat tanaman menjadi bagian pengalaman sehari-hari, bukan sekadar materi dalam kegiatan khusus.
Guru Kelompok Bermain sekaligus Koordinator Hari Tani Nasional Aprilianti Putri Hermawan mengatakan pembelajaran tidak sebatas mengenalkan tanaman. Anak-anak juga diperkenalkan dengan proses dan perawatan yang diperlukan untuk memperoleh suatu hasil.
"Yang ingin kami tanamkan bukan hanya pengetahuan tentang tanaman, anak-anak belajar bahwa untuk menghasilkan sesuatu dibutuhkan proses dan perawatan. Dari sana mereka belajar menghargai makanan, alam, dan orang-orang yang bekerja menghasilkan pangan," katanya.
Pengalaman dari kebun bertemu dengan kebiasaan anak saat mengikuti kegiatan makan bersama di sekolah. Saat sarapan, guru mengajak mereka bersyukur sekaligus mengenalkan perjalanan panjang setiap makanan yang tersedia.
Sebelum peringatan Hari Tani Nasional, anak-anak mendapat tugas membuat topi petani bersama orang tua. Topi dibuat menggunakan karton atau kardus bekas, kemudian dihias dan dikenakan selama kegiatan berlangsung.
Wali murid Nur Kholisoh Labibah mengapresiasi kegiatan yang mengenalkan kecintaan terhadap lingkungan melalui pengalaman langsung. Ia melihat ketertarikan anak untuk berkebun mulai terbawa ketika berada di rumah.
"Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang mengenalkan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini melalui menanam dan merawat tanaman. Saya melihat anak saya menjadi lebih semangat berkebun di rumah, dari kegiatan seperti ini, anak juga belajar menghargai alam dan mengenal jasa petani," katanya.
Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bagian dari cara anak memandang makanan dan lingkungan di kemudian hari. Aktivitas menanam dan merawat tanaman diharapkan tidak berhenti ketika anak meninggalkan lingkungan sekolah.