Diskatan Kuningan Perluas Pemanfaatan Pekarangan Lewat Program Tatapakan Jati 2026, Jangkau 92 Kelompok di 92 Lokasi

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:28:32 WIB
Kepala Diskatan Kuningan Wahyu Hidayah menjelaskan perluasan program Tatapakan Jati 2026 di Kuningan, Kamis.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, memperluas pemanfaatan pekarangan melalui program Tatapakan Jati 2026 yang menyasar 92 kelompok di 92 lokasi. Program ini merupakan pengembangan dari gerakan Taman Masagi yang sebelumnya hanya mengoptimalkan halaman rumah, kini mencakup seluruh tanah pekarangan produktif. Diskatan Kuningan juga menyalurkan benih dan sarana produksi pertanian kepada kelompok penerima manfaat Tahun Anggaran 2026.

KUNINGAN — Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah menyatakan program Tatapakan Jati merupakan akronim dari Tanam Tanah Pekarangan, Jaga dan Tekan Inflasi. Program ini diarahkan untuk memperluas ruang produksi pangan di tingkat keluarga dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang selama ini belum tergarap optimal.

"Taman Masagi kami mulai dari halaman rumah, sekarang kita perluas menjadi Tatapakan Jati karena yang ingin kita optimalkan bukan hanya halaman, tetapi seluruh tanah pekarangan yang masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan," kata Wahyu di Kuningan, Kamis.

Pemanfaatan Pekarangan Disesuaikan dengan Kondisi Wilayah

Wahyu menjelaskan pemanfaatan pekarangan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Komoditas yang dikembangkan meliputi tanaman pangan, hortikultura, tanaman obat, hingga komoditas lain yang sesuai karakteristik setempat.

Sebelum menerima bantuan, kelompok penerima terlebih dahulu melalui proses identifikasi dan verifikasi. Setelah lolos verifikasi, mereka mendapatkan dukungan sarana produksi serta pendampingan dalam penanaman dan pemeliharaan.

"Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas, bisa dimulai dari ruang yang kita miliki di sekitar rumah dan dikelola secara produktif," ujarnya.

Ukuran Keberhasilan Bukan Jumlah Bantuan

Wahyu menegaskan bantuan yang diberikan menjadi bagian awal dari pelaksanaan program. Hasil kegiatan tetap bergantung pada pemanfaatan dan pengelolaan pekarangan oleh kelompok penerima.

"Ukuran keberhasilannya bukan berapa bantuan yang kita berikan, tetapi apakah pekarangan menjadi produktif, tanaman menghasilkan, pangan dimanfaatkan keluarga, terjadi perubahan perilaku, dan ada kontribusi terhadap ketahanan pangan serta pengendalian inflasi," katanya.

Untuk menjaga keberlanjutan kegiatan, penyuluh pertanian memberikan pendampingan teknis. Diskatan juga melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan program di setiap lokasi.

Peran KWT dan Dukungan Pola Konsumsi B2SA

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kuningan Ela Helayati menyatakan Kelompok Wanita Tani memiliki peran dalam menggerakkan pemanfaatan pekarangan. Menurutnya, KWT berhubungan langsung dengan keluarga dan masyarakat di lingkungannya.

Ela mengatakan hasil pemanfaatan pekarangan selanjutnya dapat digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga. Program ini juga mendukung penerapan pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).

"Pekarangan yang sederhana dapat ditanami cabai, tomat, sayuran, tanaman obat maupun komoditas lainnya sesuai kondisi setempat," ujar Ela.

Program Tatapakan Jati 2026 melanjutkan gerakan Taman Masagi yang telah dilaksanakan selama dua tahun terakhir. Perluasan cakupan dari halaman rumah ke seluruh tanah pekarangan menjadi fokus utama pada tahun ini.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: jabar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top