JAWA BARAT — Suzuki Jimny tetap jadi anomali pasar SUV Indonesia: harga mendekati Rp500 juta, mesin 1.462 cc yang sama dengan Ertiga, bodi kotak, tapi penggemarnya tak berkurang. Di tengah tren SUV bongsor dan futuristis, Jimny justru mempertahankan empat teknologi yang oleh banyak orang disebut kuno, dan justru itulah alasan orang membelinya.
Keempat hal yang sengaja dipertahankan Suzuki di generasi keempat Jimny adalah desain boxy, sasis ladder frame, penggerak 4WD dengan low range, dan suspensi rigid axle. Kombinasi ini sudah jarang ditemui di SUV modern yang lebih memilih monokok dan suspensi independen demi kenyamanan jalan raya.
Sejarah Jimny sudah panjang. Generasi pertamanya lahir tahun 1970, dan generasi keempat yang lahir 2018 pertama kali hadir di Indonesia pada 2019. Material dan teknologinya sudah berubah jauh, tapi siluetnya masih sama.
Sasis ladder frame adalah tulang punggung Jimny. Konstruksi ini membuat bodi terpisah dari rangka, sehingga lebih tahan puntir saat melibas medan berbatu atau tanjakan curam. Konsekuensinya, kenyamanan di jalan aspal tidak sehalus SUV monokok.
Getaran dan pantulan dari permukaan jalan lebih terasa sampai ke kabin. Bagi pengguna yang mencari mobil keluarga harian, karakter ini bisa jadi catatan tersendiri.
Sistem penggerak 4WD dengan low range memungkinkan Jimny merayap di tanjakan ekstrem dengan torsi besar di putaran mesin rendah. Fitur ini masih dipertahankan Suzuki meski sebagian besar SUV kompak modern sudah beralih ke AWD tanpa low range.
Di arena Jimny Adventure Experience pada IIMS 2025, SIS memperagakan kemampuan ini lewat jembatan uji. Sasis ladder frame, 4WD, dan rigid axle jadi tiga andalan yang ditonjolkan.
Suspensi rigid axle menghubungkan roda kiri dan kanan dalam satu poros. Konstruksinya sederhana, mudah diperbaiki, dan kuat menahan beban berat saat off-road. Tapi di jalan bergelombang, satu roda yang naik akan mempengaruhi roda satunya, sehingga kabin terasa lebih bergoyang dibanding suspensi independen.
Jimny memakai mesin bensin 1.462 cc empat silinder dengan tenaga 102 PS atau setara 100 hp di 6.000 rpm dan torsi puncak 130 Nm di 4.000 rpm. Angka ini tergolong biasa untuk mobil seharga hampir setengah miliar rupiah.
Sebagai perbandingan, mesin yang sama juga dipakai Suzuki Ertiga. Bagi sebagian pembeli, ini justru bukan masalah karena Jimny dibeli bukan untuk balapan di jalan tol.
Meski tampilannya retro, Jimny versi tiga pintu maupun lima pintu sudah dibekali enam airbag, ESP, Hill Hold Control, Hill Descent Control, ABS, EBD, Brake Assist, kamera belakang, dan sensor parkir belakang. Kombinasi ini membuat Jimny tetap kompetitif secara fitur keselamatan di kelasnya.
Donny Saputra, Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), menyebut Jimny sebagai model legendaris dengan karakter sederhana dan lugas.
"Suzuki Jimny merupakan model kendaraan legendaris dengan sentuhan original dan karakter yang sederhana, lugas, dan desain yang berjiwa energik," ujar Donny Saputra.
Identitas visual Jimny yang kotak dan ringkas dengan roda mepet di sudut bodi membuatnya mudah dikenali dari jauh. Di tengah SUV yang makin bongsor dan futuristis, Jimny justru menegaskan posisinya sebagai kendaraan dengan karakter tersendiri.
Suzuki Jimny bukan SUV untuk semua orang. Pembeli yang mencari kenyamanan jalan raya, kabin lapang, atau mesin bertenaga besar sebaiknya melihat SUV kompak lain di rentang harga yang sama.
Tapi bagi yang menginginkan kendaraan off-road dengan karakter visual kuat dan teknologi yang terbukti tahan banting, Jimny tetap sulit digantikan. Harga hampir Rp500 juta memang tinggi, tapi bagi penggemarnya, angka itu bukan penghalang.