JAWA BARAT — Sebuah video parenting di kanal HaiBunda membahas ciri kepribadian anak yang sering jadi sasaran kemarahan orang tua. Marah sesekali wajar, tapi kalau terlalu sering, dampaknya bisa menyentuh mental Si Kecil. Simak penjelasannya berikut ini.
Kanal YouTube HaiBunda merilis video parenting berjudul "Ciri Kepribadian Anak yang Sering Dimarahi Orang Tua" pada Rabu, 21 Oktober 2026. Video berdurasi singkat itu menyoroti satu pertanyaan yang jarang dibahas terbuka: apakah kemarahan orang tua selalu soal perilaku anak, atau ada tipe kepribadian tertentu yang lebih mudah memicu emosi?
Pembahasan dalam video menegaskan bahwa marah pada anak sesekali adalah hal wajar. Yang perlu diwaspadai adalah pola kemarahan yang berulang, karena kondisi itu bisa berdampak pada mental Si Kecil.
Setiap anak lahir dengan temperamen berbeda. Ada yang tenang dan mudah diatur, ada pula yang energik, keras kepala, atau sangat ingin tahu. Anak dengan tipe terakhir sering dianggap "nakal" padahal perilakunya lahir dari dorongan alami untuk mengeksplorasi lingkungan.
Orang tua yang sedang lelah atau dikejar waktu biasanya lebih cepat terpicu oleh anak yang aktif bergerak, banyak bertanya, atau sulit diam. Akibatnya, anak dengan kepribadian kuat bisa menerima teguran lebih sering dibanding saudaranya yang pendiam.
Kemarahan yang datang terus-menerus membuat anak merasa tidak pernah benar. Dalam jangka panjang, perasaan itu bisa menurunkan rasa percaya diri dan membuat anak menarik diri dari orang tua.
Sebagian anak justru meniru cara orang tua menyelesaikan masalah, sehingga mereka tumbuh dengan kebiasaan membentak saat marah. Pola ini kerap terbawa sampai dewasa dan memengaruhi cara mereka mengasuh kelak.
Langkah pertama adalah mengenali temperamen anak sejak dini. Orang tua bisa mencatat situasi apa yang paling sering memicu kemarahan, lalu mencari pola dan pemicunya.
Alih-alih langsung membentak, coba beri anak ruang untuk bergerak dan menyalurkan energinya. Batasi juga jumlah aturan rumah agar anak tidak merasa terkekang sepanjang hari.
Jika kemarahan orang tua sudah berujung pada bentakan keras, hukuman fisik, atau membuat anak takut pulang, segera cari dukungan. Konsultasi dengan psikolog anak atau konselor keluarga bisa membantu memutus pola tersebut.
Orang tua yang merasa sulit mengendalikan emosi juga perlu memperhatikan kondisi dirinya sendiri. Kurang tidur, beban kerja, dan tekanan ekonomi kerap membuat ambang kesabaran menurun.
Mengenali ciri kepribadian anak membantu orang tua memilih cara mendidik yang lebih tepat. Anak yang sering dimarahi bukan berarti buruk, hanya butuh pendekatan yang sesuai dengan karakternya.