TASIKMALAYA — Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI berlangsung khidmat dengan latar panorama Gunung Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (18/8/2026). Kegiatan yang diinisiasi para budayawan ini sengaja mengusung nuansa tradisional untuk mengenang kembali nilai sejarah perjuangan bangsa.
Pantauan di lokasi, para peserta tidak mengenakan jas atau peci hitam layaknya upacara resmi. Mereka justru hadir dengan iket kepala, beskap, hingga pakaian adat Sunda. Sejumlah perwakilan kerajaan bahkan tampil mengenakan mahkota khas masing-masing daerah.
Paskibraka Tampil dengan Busana Prajurit Kerajaan
Penampilan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) menjadi perhatian utama dalam upacara tersebut. Para petugas tidak berseragam Paskibraka standar, melainkan mengenakan busana yang terinspirasi dari pakaian prajurit kerajaan masa lampau.
Meski demikian, barisan tetap menunjukkan kedisiplinan. Langkah tegap para petugas berpadu dengan nuansa tradisional, menciptakan suasana upacara yang khas dan berbeda dari biasanya.
Mengapa Peringatan Digelar pada 18 Agustus?
Pemilihan tanggal 18 Agustus bukan tanpa alasan. Budayawan Sunda Anton Charliyan yang terlibat langsung dalam kegiatan ini menjelaskan, tanggal tersebut merupakan bagian penting dari rangkaian awal berdirinya negara.
"17 Agustus itu Proklamasi dibacakan. Kita kenang lagi masa perjuangan dulu para pahlawan," ujar Anton dalam keterangannya di sela-sela upacara.
Menurutnya, peringatan kemerdekaan tidak harus selalu menggunakan format yang sama setiap tahun. Pendekatan budaya dinilai mampu memperkenalkan nilai nasionalisme dengan cara yang lebih dekat dengan identitas masyarakat setempat.
Perwakilan Kerajaan dari Sumedang, Cirebon, dan Tasikmalaya Hadir
Barisan depan upacara tampak diisi oleh perwakilan kerajaan dan kasepuhan dari berbagai daerah di Jawa Barat. Mereka datang dari Sumedang, Cirebon, hingga Tasikmalaya untuk bersama-sama mengikuti jalannya pengibaran bendera.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk alternatif peringatan kemerdekaan yang mengangkat kearifan lokal. Selain memperkuat rasa nasionalisme, upacara adat ini juga menjadi upaya nyata untuk menghidupkan kembali warisan budaya Sunda di tengah generasi muda.
Upacara dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan berlangsung lancar hingga selesai. Ratusan peserta yang hadir tampak mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh hikmat.