Pencarian

6 Fakta Arsitektur Gedung Sate Bandung: Tusuk Sate Enam Juta Gulden hingga Pengaruh Istana Alhambra Spanyol

Kamis, 20 Agustus 2026 • 22:08:33 WIB
6 Fakta Arsitektur Gedung Sate Bandung: Tusuk Sate Enam Juta Gulden hingga Pengaruh Istana Alhambra Spanyol
Tampak depan Gedung Sate dengan enam tusuk sate di puncaknya, ikon arsitektur Jawa Barat di Bandung.

BANDUNG — Gedung Sate yang menjadi ikon Jawa Barat tidak hanya berfungsi sebagai kantor pemerintahan, tetapi juga menyimpan kekayaan filosofi dan sejarah dalam setiap detail arsitekturnya. Enam elemen utama bangunan ini memiliki makna yang saling terkait, mulai dari simbol ketuhanan hingga pengaruh peradaban dunia.

Catatan ini mengemuka di tengah peringatan kemerdekaan yang dihadiri Zaini Shofari, Ketua Fraksi PPP DPRD Jabar, di pelataran Gedung Sate. Ia mengamati langsung ornamen bangunan dan mengaitkannya dengan berbagai sumber sejarah.

Makna Enam Tusuk Sate: Simbol Biaya Pembangunan

Enam tusuk sate yang menjadi ciri khas puncak gedung bukan sekadar hiasan. Jumlah tersebut menandakan biaya pembangunan Gedung Sate yang mencapai enam juta gulden, mata uang Belanda saat itu.

Namun, budayawan Haryoto Kunto dalam buku "Semerbak Bunga Di Bandung Raya" (1986) memiliki tafsir lain. Menurutnya, bentuk tersebut bukanlah tusuk sate, melainkan buah jambu, karena area pembangunan gedung saat itu dikelilingi banyak pohon jambu.

Tiga Umpak: Fondasi Iman, Islam, dan Ihsan

Tiga umpak atau batu penyangga di dasar bangunan diadopsi dari Masjid Agung Demak. Ketiganya melambangkan tiga pilar ajaran Islam: Iman, Islam, dan Ihsan.

Pengaruh arsitektur Kerajaan Islam Demak dan Mataram ini masih bisa ditemukan di sejumlah masjid tua di Jawa Barat. Beberapa di antaranya yang masih asli adalah Masjid Agung Sumedang dan Masjid Agung Sukapura di Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Sementara Masjid Agung Bandung, Garut, dan Cianjur sudah dipugar. Masjid-masjid bersejarah ini kerap disebut "Bale Nyungcung" karena bentuk atapnya yang meruncing ke atas.

Pengaruh Alhambra Spanyol dan Piramida Thailand

Arsitek Gedung Sate, J. Gerber, ternyata banyak terpengaruh perjalanannya ke berbagai negara. Warna merah pada bangunan terinspirasi dari kompleks istana Al-Hambra, peninggalan Kerajaan Islam terakhir di Spanyol yang berada di Granada. Nama Alhambra sendiri berarti merah, merujuk pada warna dinding sekelilingnya.

Sementara itu, bentuk piramida pada bagian tertentu mengadopsi gaya bangunan yang banyak ditemukan di Thailand, tempat Gerber lama tinggal. Unsur keberagaman Budha-Hindu pun turut mewarnai desain gedung ini.

Batu Terbaik dari Arcamanik dan Prasasti yang Hilang

Material utama gedung ini menggunakan batu yang berasal dari Arcamanik, Bandung. Batu dari kawasan kaki Gunung Manglayang ini dinilai sebagai batu terbaik di zamannya. Istilah Arcamanik sendiri berasal dari kata "arca" yang berarti batu dan "manik" yang berarti karang.

Di lokasi tersebut, banyak ditemukan batuan khas seperti Batu Templek atau Oray Tapa yang berbentuk seperti ular. Kini kawasan itu menjadi objek wisata di wilayah Kabupaten Bandung.

Sayangnya, prasasti yang menjadi bukti pembangunan Gedung Sate pada 1920-1924 yang semula berada di bagian atas gedung, kini sudah dipindahkan. Keberadaannya saat ini belum diketahui secara pasti.

Gelar Pahlawan dan Jejak Abdul Muis di Bandung

Keberadaan tokoh nasional asal Minangkabau, Abdul Muis, juga tak lepas dari sejarah Bandung. Ia merupakan penerima gelar Pahlawan Nasional pertama yang dianugerahkan Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.

Jejaknya di kota ini begitu kuat hingga menjadi nama trayek angkutan kota. Rute seperti Abdul Muis-Cicaheum hingga Abdul Muis-Ledeng sempat menjadi bagian dari keseharian warga Bandung.

Follow jabarklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jabar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks