CIREBON — DPUTR Kabupaten Cirebon menyatakan ruas Jalan Panguragan-Lemahtamba telah beberapa kali mendapat penanganan melalui pemeliharaan maupun peningkatan jalan. Rezza Fauzi menegaskan, kerusakan yang kembali terjadi bukan berarti ruas tersebut sama sekali tidak mendapat perhatian pemerintah.
Pernyataan itu sekaligus membantah anggapan bahwa Jalan Panguragan-Lemahtamba tidak pernah diperbaiki selama sekitar 18 tahun.
Mengapa Konstruksi Diubah dari Aspal ke Beton
Pemerintah daerah memilih mengubah konstruksi jalan dari aspal menjadi beton, bukan sekadar tambal sulam. Langkah ini disiapkan untuk membuat ruas tersebut lebih kuat menghadapi kendaraan bermuatan berat yang selama ini melintas.
Rencana peningkatan pada 2027 itu menargetkan perbaikan menyeluruh, dengan anggaran sekitar Rp 1 miliar. Pengerjaan beton dinilai lebih tahan lama dibandingkan penambalan aspal yang berulang.
Warga Desa Kroya Perbaiki Jalan Secara Swadaya
Warga Desa Kroya sebelumnya memperbaiki jalan secara swadaya akibat kerusakan yang tak kunjung ditangani. Rezza menyebut rencana penanganan dari dinas sebenarnya sudah disiapkan sebelum aksi warga tersebut berlangsung.
Pemeliharaan dan peningkatan jalan, menurut dia, telah dilakukan beberapa kali pada ruas Panguragan-Lemahtamba. Namun, kondisi jalan kembali rusak karena beban kendaraan berat yang terus melintas.
Anggaran Rp 1 Miliar untuk Peningkatan pada 2027
DPUTR Kabupaten Cirebon memastikan ruas Jalan Panguragan-Lemahtamba masuk agenda peningkatan pada 2027. Anggaran yang disiapkan sekitar Rp 1 miliar untuk mengubah konstruksi jalan dari aspal menjadi beton.
Dengan konstruksi beton, ruas jalan diharapkan lebih tahan terhadap beban kendaraan bermuatan berat. Perbaikan ini menjadi harapan warga setelah bertahun-tahun menunggu penanganan permanen.
DPUTR Kabupaten Cirebon belum merinci jadwal lelang maupun pelaksanaan proyek tersebut. Pemerintah daerah memastikan ruas Jalan Panguragan-Lemahtamba tetap menjadi prioritas penanganan pada 2027.