Hapal 30 Juz Al-Qur’an. Dikubur 21 tahun, Jenazah Pengurus Masjid dan Kain Kafannya Utuh

Laporan Fahira Ayu Natasya
DI KAWASAN Jl Rencong No 66 B, Medan, Sumatera Utara, nama Muhammad Isa Ramli bin H Ramli, tak asing lagi. Maklum, dia sebagai sebagai nazir (pengurus-red) masjid di kawasan tersebut. Terlebih Isa, begitu biasa disapa, sebagai guru ngaji.

Ya, dari pagi hingga siang, Isa mengajar ngaji ibu-ibu. Dan setiap malam Jum’at, memimpin pengajian Yaasiin-an.

Menurut H Ramli ST, putra ke tiganya, nyaris setiap waktu Isa menghabiskannya dengan membaca Al-Qur’an. Malah Isa sudah hapal 30 Juz Al-Qur’an. Tak heran, ketika dia meninggal dunia, kerabat dan orang-orang merasa kehilangan. Anehnya, teman-teman Isa, yang rumahnya jauh dan berada di luar kota, datang untuk melayat serta mengantar hingga ke pemakaman.

“Mereka merasa kehilangan sosok ayah saya yang begitu getol membaca Al-Qur’an serta taat beribadah,” kata Ramli ketika ditemui di rumahya di Jl H Didi Efendi, Pabrik Es, Kota Tasikmalaya, Selasa lalu.

Sebelum melanjutkan kata-katanya Ramli termenung. Matamya tertuju pada foto yang dipasang di atas dinding di tengah rumahnya. Meski tidak ada air mata menetes, tapi dapat dipastikan Ramli sangat berat mengenang kembali orang yang dihormati, disegai dan dicintainya.

“Itu foto ayahanda kami,” katanya singkat. Lalu kembali terdiam.

Setelah lama, kembali Ramli berucap. Ayahandanya Isa meninggal dunia pada usia 68 tahun. Tepatnya, tanggal 9 Agustus 1978. Dia menghembuskan napas terakhir di rumahnya, setelah diserang demam tinggi kala berada di masjid. Dan Isa dimakam di samping Masjid Raya 45 Medan Timur, Jl Profesor HM Yamin SH, Serdang, Medan.

Waktu terus berlalu. Isa telah berada didalam kubur selama 21 tahun. Waktu itu Siti Marmah binti H Abdullaah, istri Isa, ‘menyusul’. Tepatnya, 16 Januari 1999. Dia wafat karena sudah tua.

Sebelum wafat, Siti Marmah sempat wasiat. Katanya, jika meninggal dunia, dirinya minta dikuburkan dekat makam Isa.

Tapi keluarga Isa, kebingungan. Karena lahan dekat makam almarhum Isa sudah sempit akibat terkena pelebaran mimbar Masjid Raya 45. Akhirnya setelah keluarga berembuk, diputuskan untuk menguburkan jenazah Siti di atas makam Isa.

Sebelum dilakukan penggalian makam Isa, penggali kubur meminta kepada keluarga almarhum untuk membeli kain kapan. Nantinya kain itu akan digunakan untuk membungkus tulang belulang Isa.

Usai jenazah Siti disalatkan, semua pengantar berdiri memutar dekat makam Isa. Dua penggali kubur telah siap. Lambat tapi pasti, cangkul diayunkan untuk menggali makam Isa. Tak terasa sudah dalam. Tiba-tiba cangkul yang diayunkan penggali kubur mengeluarkan suara; keras. Ya, seperti menghantam benda keras. Semua tertegun. Penggali mencoba memeriksa. Ternyata cangkul menghantam kayu penutup jenazah (bukan peti mati-red). Anehnya, papan tersebut kuat dan masih utuh. Untuk mengetahui keadaan mayat, penggali kuburan berusaha mencongkel papan kayu penutup jenazah.

Setelah terbuka, penggali kubur langsung adzan. Ugh, dia melihat kain kapan masih utuh, kering dan terlihat putih; bersih. Padahal dulu saat jenazah Isa dikuburkan terjadi hujan lebat. Tanah yang digali basah dan tentu kain kapan kotor.

Penggali kubur langsung bertanya pada keluarga Isa. “Apa pekerjaan orang tua ini pada semasa hidupnya?” tanyanya.

Setelah mendapat penjelasan bahwa, Isa taat beribadah dan hapal 30 Juz Al-Qur’an, barulah dia menganggukan kepala. Siang itu keluarga Isa kembali berembuk. Diputuskan jenazah Isa ditutup kembali. Dan jenazah Siti dikubur diatasnya.

Menurut Abdullah, putra kelima Isa, semula jenazah ayahnya diperkirakan sudah tinggal tulang belulang. Dan sedianya tulang belulang itu akan dibungkus kain kapan. Kemudian nantinya akan dimakamkan kembali bersamaan dengan jenazah Isa dalam liang lahat yang sama. “Tapi jika melihat begitu. Ya, sudah jenazah ibunda kami dimakamkan diatasnya,” kata Abdullah. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web