Mengantar Calon Jamaah Haji Menjadi Tradisi yang Masih Dipertahankan

TASIKMALAYA – Dengan harapan akan mendapatkan berkah dan ridlo Alloh, ratusan pengantar calon jamaah haji di Kota Tasikmalaya, rela berpanas-panasan, meski hanya bisa melihat saat calon jemaah haji hendak berangkat. Mengantarkan calon jamaah haji ternyata sudah menjadi tradisi yang hingga kini masih terus dipertahankan.

Ya, ratusan orang berkerumun di kawasan Gedung Dakwah Islamiyah (GDI) Kota Tasikmalaya, kemarin siang. Suasana seperti ini akan kita jumpai saat musim haji tiba. Mereka datang dan berkumpul ketempat pemberangkatan calon jamaah haji, hanya untuk mengantar keluarga atau kerabat yang hendak menunaikan Rukun Islam ke lima.

Panas terik matahari tidak dihiraukan, meski harus membawa anak-anaknya. Bahkan mereka harus berdesakan dalam rombongan, menggunakan mobil bak terbuka yang hanya ditutup terpal.

Sesampainya di lokasi pemberangkatan, mereka pun tidak bisa bertemu lagi dengan keluarga yang jadi calon jamaah haji karena sudah masuk ruang karantina.

Bagi mereka, saat calon jemaah haji berangkat menggunakan bus dan melambaikan tangan tanda perpisahan, itu sudah cukup. Air mata pun kadang tak terbendung melepas kepergian orang yang mereka cintai. Semua itu dilakukan hanya mengharapkan berkah dan Ridlo Alloh.

Para pengantar calon jamaah haji berharap dirinya bisa seperti mereka berangkat ke tanah suci. Ya, kepercayaan inilah yang membuat tradisi mengantar calon jamaah haji di Tasikmalaya, masih terus dipertahankan.

“Kita sengaja membawa keluarga untuk mengantar sang paman yang akan berangkat naik haji. Dengan mengantarnya ke tempat pemberangkatan, semoga kita juga akan terpanggil ke tanah suci,” kata Tantan Tantowi, salah seorang pengantar haji dari Kampung Sukarindik Bungursari, Kota Tasikmalaya.

Tradisi unik ini juga menjadi berkah bagi para pedagang musiman di sekitar Gedung Dakwah Islamiah yang digunakan pusat pemberangkatan calon jamaah haji. Dengan membeludaknya pengantar calon jamaah haji, menjadikan dagangan mereka laris manis.

Kenaikan omset para pedagang ini bisa mencapai delapan puluh persen hingga sembilan puluh persen. “Lumayan pak, dagangan saya laris. Bukan calon jamaah haji yang belanja, tapi pengantarnya. Saya biasa jualan di kawasan Hazet, tapi kalau ada pemberangkatan haji, saya pindah ke sini,” kata Dadan Subardan, salah seorang pedagang susu murni. (SZM)***

Tinggalkan Balasan

Nama *
Surel *
Situs web