Kades Kebonjati Sumedang Hidupkan Kembali Seni Tradisional di 7 RW

Penulis: Wahyudi Santoso  •  Senin, 04 Mei 2026 | 14:55:46 WIB
Kades Kebonjati memulai program "Sapa Warga Berbasis Budaya" untuk menghidupkan seni tradisional di 7 RW.

SUMEDANG — Pemerintah Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara, mulai menghidupkan kembali berbagai kesenian tradisional yang sempat vakum melalui program "Sapa Warga Berbasis Budaya". Kegiatan yang berlangsung Minggu (3/5) ini menjadi langkah awal pemetaan potensi seni di tiap wilayah rukun warga (RW).

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Bayu Satya Prawira dan Anggota DPRD Kabupaten Sumedang Asep Ronny Hidayat. Kehadiran para legislator ini menegaskan dukungan lintas sektoral terhadap pemulihan identitas budaya lokal di wilayah Sumedang.

Sinergi Legislator dan Desa Gali Potensi Budaya

Program ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bentuk kolaborasi nyata antara perwakilan rakyat dan pemerintah tingkat desa. Kepala Desa Kebonjati, Jajang, mengapresiasi dukungan penuh dari berbagai pihak yang memungkinkan acara ini terselenggara dengan lancar di tengah masyarakat.

“Alhamdulillah acara ini berjalan dengan lancar acara Sapa Warga Berbasis Budaya ni merupakan program kolaburasi yang dijalankan bersama antara DPRD Provinsi Jawa Barat, DPRD Kabupaten Sumedang dan masyarakat Kebonjati dalam menggali kembali budaya masyarakat yang ada di Desa Kebonjati,” ujar Kades Kebonjati, Jajang, Minggu (3/5).

Selain unsur legislatif, kegiatan ini juga melibatkan perwakilan Pemerintah Kecamatan Sumedang Utara, tokoh masyarakat, serta pengamanan dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Keterlibatan berbagai unsur ini bertujuan untuk memastikan pesan pelestarian budaya sampai ke akar rumput.

Menghidupkan Kembali Warisan Seni yang Sempat Hilang

Jajang mengungkapkan bahwa Desa Kebonjati sebenarnya memiliki sejarah kesenian yang kuat. Pada masa kepemimpinan sebelumnya, terutama saat dijabat oleh Pak Yunus, kesenian tradisional seperti calung berkembang pesat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga desa.

Namun, seiring berjalannya waktu dan pergantian zaman, eksistensi kesenian tersebut perlahan memudar hingga hampir menghilang. Kondisi inilah yang mendorong pemerintah desa saat ini untuk kembali menggali dan memberikan ruang bagi seniman lokal untuk tampil kembali di hadapan publik.

Langkah ini diambil untuk memperkuat jati diri masyarakat Kebonjati melalui pendekatan budaya Kasumedangan. Pemerintah desa menilai bahwa ketahanan budaya merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun karakter warga, terutama di tengah gempuran budaya modern.

Target Agenda Tahunan dan Regenerasi di 7 RW

Pemerintah Desa Kebonjati memproyeksikan kegiatan seni budaya ini tidak berhenti pada satu momentum saja. Ke depan, Jajang menargetkan acara serupa dapat digelar secara rutin setiap tahun dengan jangkauan yang lebih luas, mencakup seluruh wilayah dari RW 01 hingga RW 07.

Setiap RW di Desa Kebonjati diyakini memiliki ciri khas dan potensi kesenian yang berbeda-beda. Dengan menyisir setiap wilayah, pemerintah desa berharap proses regenerasi seniman muda dapat berjalan lebih efektif agar warisan leluhur tidak terputus pada generasi tua saja.

“Mudah-mudahan ke depan kegiatan ini bisa digelar setahun sekali dan lebih merata di setiap RW. InsyaAllah, potensi kesenian dari masing-masing wilayah akan terus digali dan di lestarkan dengan regenerasi, agar tetap hidup dan berkembang,” tutup Jajang.

Reporter: Wahyudi Santoso
Back to top