Pemkab Cirebon Catat Kenaikan Ekspor Hingga 432 Juta Dolar AS

Penulis: Bayu Nugroho  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 14:56:39 WIB
Nilai ekspor produk industri Kabupaten Cirebon mencapai 432 juta dolar AS pada 2025.

CIREBON — Realisasi ekspor produk industri dari Kabupaten Cirebon menunjukkan grafik menanjak dalam tiga tahun terakhir dengan nilai menembus 432,05 juta dolar AS pada 2025. Angka ini mencerminkan daya tahan produk lokal di pasar internasional meski situasi ekonomi global terus dinamis.

Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon, pertumbuhan signifikan mulai terlihat sejak 2023. Saat itu, total nilai ekspor tercatat sebesar 354,59 juta dolar AS, kemudian melonjak tajam menjadi 423,89 juta dolar AS pada 2024, sebelum akhirnya mencapai titik tertinggi di angka 432,05 juta dolar AS pada tahun lalu.

Furnitur Rotan dan Tekstil Jadi Penopang Utama Ekspor

Sektor furnitur dan rotan masih menjadi tulang punggung utama perdagangan luar negeri daerah ini. Pada 2023, komoditas tersebut menyumbang 102,79 juta dolar AS. Nilai ini sempat melonjak ke angka 156,97 juta dolar AS pada 2024, meski terkoreksi menjadi 126,84 juta dolar AS pada 2025.

Di sisi lain, produk tekstil menunjukkan performa yang jauh lebih stabil dan konsisten. Nilai ekspor tekstil yang pada 2023 berada di angka 63,15 juta dolar AS, terus merangkak naik menjadi 93,22 juta dolar AS pada 2024, dan kembali menguat tipis ke posisi 93,59 juta dolar AS pada 2025.

Kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon, Suhartono menekankan bahwa fluktuasi pada komoditas tertentu tidak mengubah arah tren umum yang tetap menguat.

“Secara umum kinerja ekspor kita menunjukkan tren yang terus menguat dalam tiga tahun terakhir,” kata Suhartono saat memberikan keterangan baru-baru ini.

Mengapa Jumlah Pelaku Industri di Cirebon Terus Bertambah?

Pertumbuhan nilai perdagangan ini berjalan beriringan dengan ekspansi pelaku usaha di lapangan. Disperdagin mencatat adanya penambahan jumlah pelaku industri, baik pada skala Industri Kecil dan Menengah (IKM) maupun industri besar di wilayah Cirebon.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada peningkatan kapasitas produksi serta standar kualitas produk yang dihasilkan. Dengan bertambahnya pemain di sektor industri pengolahan, daya saing daerah dianggap semakin kompetitif untuk memenuhi permintaan buyer dari mancanegara.

Pemerintah daerah meyakini inovasi berkelanjutan yang dilakukan para pelaku usaha menjadi kunci utama mengapa produk Cirebon tetap diminati, terutama untuk kebutuhan interior dan sandang di pasar Barat dan Asia.

Tantangan Bahan Baku Impor pada Industri Pengolahan

Meski mencatatkan angka yang impresif, industri pengolahan di Kabupaten Cirebon tidak lepas dari tantangan teknis, terutama ketergantungan pada beberapa komponen impor. Industri rotan, misalnya, masih membutuhkan material pendukung dari luar negeri untuk proses akhir.

Kebutuhan finishing seperti pernis berbahan dasar minyak bumi masih harus didatangkan dari luar. Namun, otoritas terkait memastikan bahwa ketergantungan ini masih dalam batas yang bisa ditoleransi dan tidak mengganggu margin ekspor secara keseluruhan.

“Memang ada dampak dari bahan baku impor, tetapi tidak terlalu signifikan terhadap kinerja ekspor,” ujar Suhartono menjelaskan kondisi industri saat ini.

Ke depan, Pemkab Cirebon berkomitmen untuk terus mendorong efisiensi produksi. Langkah ini diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekspor agar tetap positif pada tahun-tahun mendatang, sekaligus memperkuat posisi Cirebon sebagai salah satu hub industri furnitur dan tekstil utama di Jawa Barat.

Reporter: Bayu Nugroho
Back to top