Xiaomi Auto, divisi kendaraan listrik Xiaomi, mencatat pengiriman 30.000 unit pada bulan April 2024, menurut data yang dipublikasikan oleh portal otomotif Gasgoo. Pencapaian ini terjadi hanya tiga bulan setelah perusahaan meluncurkan model pertamanya, SU7, dan menunjukkan kecepatan adopsi yang mengesankan di antara konsumen Cina.
Data Gasgoo menilai bahwa 30.000 unit setara dengan 1,2?% total penjualan mobil listrik di bulan April, yang diperkirakan mencapai 2,5?juta unit. Kenaikan ini membantu memperkecil kesenjangan antara produsen tradisional dan pendatang baru, sekaligus menambah variasi pilihan bagi konsumen muda yang mengutamakan teknologi terintegrasi.
Li Wei, Direktur Divisi Mobil Listrik di China Association of Automobile Manufacturers (CAAM), menyebut angka tersebut “tanda kuat bahwa ekosistem teknologi Xiaomi mampu memberi nilai tambah bagi mobil listrik”. Pemerintah provinsi Hunan, tempat pabrik Xiaomi Auto berlokasi, menegaskan dukungan regulasi dan insentif pajak untuk mempercepat produksi massal.
Meskipun Xiaomi Auto belum resmi masuk pasar Indonesia, pencapaian 30.000 unit mengindikasikan kesiapan perusahaan untuk menembus wilayah ASEAN. Jika Xiaomi mengikuti jejak merek lain seperti Nio atau Xpeng, konsumen Indonesia dapat mengharapkan model berharga menengah dengan integrasi MIUI, layanan cloud, dan ekosistem IoT yang sudah familiar.
Berangkat dari angka April, Xiaomi menargetkan pengiriman 120.000 unit pada akhir 2024, dengan rencana meluncurkan varian sport dan SUV pada kuartal ketiga. Perusahaan juga mengumumkan investasi tambahan sebesar RMB 5 miliar (sekitar Rp 825?juta) untuk memperluas kapasitas pabrik di Hunan.
Dengan data pengiriman yang terus naik, Xiaomi Auto tampaknya siap menjadi alternatif yang menarik bagi pembeli mobil listrik pertama kali, terutama bagi mereka yang mengutamakan konektivitas pintar dan harga terjangkau.