Cerita Batagor Gembira: Dari Gerobak di Depan PLN Depok hingga Raup Omzet Ratusan Juta Berkat KUR BRI

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:03:01 WIB
Batagor Gembira memulai usaha dari gerobak sederhana di depan PLN Depok sejak 1984.

JAWA BARAT — Usaha yang dirintis orang tua Nurlaela sejak 1984 ini memulai perjalanannya dari gerobak sederhana di depan Kantor PLN Depok. Sang ayah, yang merantau dari Malangbong, Garut, memilih lokasi itu karena ramai mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang menjadi pelanggan setia. Nama "Batagor Gembira" pun lahir dari mereka—konon, setelah makan, para mahasiswa itu selalu merasa gembira.

Titik balik terjadi pada 2017, saat sang ayah berangkat haji dan menyerahkan usaha sepenuhnya kepada Nurlaela dan Endi. "Kami sempat kerja kantoran, tapi rasanya untuk memenuhi kebutuhan bulanan tidak sampai. Enakan usaha, dapatnya bisa setiap hari," kenang Nurlaela kepada AKURAT.CO.

Kepercayaan penuh itu membuahkan hasil. Kini, Batagor Gembira memiliki 7 gerobak yang tersebar di lokasi strategis: PLN Depok (buka 24 jam tanpa libur), samping TipTop di Jalan Tole Iskandar, Jalan Flamboyan, Jalan Dadap, Jalan Majapahit, Jalan Angin Mamiri, dan SD Bina Insani. Dua belas karyawan—mayoritas dari Garut, Banten, dan Bogor—direkrut untuk menjaga ritme produksi.

Modal KUR BRI dan Strategi Ekspansi

Untuk membuka cabang baru, Nurlaela dan Endi mengaku mengandalkan pinjaman KUR BRI. "Dari yang semula mengontrak, akhirnya kami bisa punya rumah sendiri," ujar Endi. Skema KUR dengan bunga rendah—saat ini 6 persen per tahun—memungkinkan mereka mengelola arus kas tanpa terbebani cicilan besar.

Strategi ini terbukti efektif. Di gerobak samping TipTop, misalnya, mereka jarang libur kecuali Lebaran. "Puncak ramainya justru 2 minggu setelah Lebaran. Orang lain libur, kami malah meraup uang," canda Nurlaela. Sementara itu, gerobak di PLN Depok sama sekali tidak pernah tutup—bahkan saat hari raya—karena permintaan yang terus mengalir.

Resep Rahasia dan Tantangan Bertahan

Sri (39), pelanggan setia yang juga pegawai TipTop, mengaku tak pernah melewatkan makan siang di Batagor Gembira. "Rasanya enak, bumbunya otentik, segar, dan pedasnya pas," katanya. Kesetiaan pelanggan seperti Sri menjadi bukti bahwa cita rasa tradisional masih punya tempat di tengah gempuran kuliner modern.

Namun, jalan untuk bertahan tidak mudah. Endi menceritakan, banyak orang yang datang belajar—bahkan ada yang bolak-balik dari Garut selama 6 bulan—akhirnya menyerah. "Cobaannya, jualan tidak mungkin ramai setiap hari. Kebanyakan tidak kuat di situ," ujarnya.

Bagi Nurlaela dan Endi, kuncinya adalah konsistensi. Mereka tidak hanya menjaga rasa, tetapi juga memperluas jangkauan lewat pesanan online di Grabfood—dengan nilai sekali pesan mencapai Rp300–600 ribu—dan sesekali melayani pesanan siomay untuk acara pernikahan.

Apa Langkah Selanjutnya?

Ke depan, pasangan ini berencana menambah gerobak di lokasi baru, terutama di sekitar kampus dan perkantoran. Mereka juga mulai mengembangkan kemasan bahan mentah untuk dijual kembali ke reseller. "Kami ingin Batagor Gembira tetap gembira, bukan hanya bagi pelanggan, tapi juga bagi karyawan dan keluarga," pungkas Nurlaela.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top