BOGOR — Pemerintah Kota Bogor terus mematangkan rencana pengolahan sampah berbasis teknologi Waste to Energy (WTE). Klaim yang disampaikan, teknologi ini bakal jauh lebih bersih dibandingkan pengelolaan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) konvensional yang selama ini menjadi andalan.
Teknologi WTE disebut mampu mengubah sampah menjadi energi listrik dengan proses pembakaran yang lebih terkontrol. Hal ini menjadi kunci dalam target besar pemerintah kota untuk mencapai kondisi zero emission atau nol emisi karbon.
Perbedaan utama terletak pada proses pengelolaan residu. Di TPA konvensional, sampah dibiarkan membusuk dan menghasilkan gas metana yang 25 kali lebih kuat memerangkap panas dibanding karbon dioksida. Sementara itu, pembangkit WTE membakar sampah pada suhu tinggi sehingga emisi gas rumah kaca bisa ditekan secara signifikan.
Abu sisa pembakaran pun disebut masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku konstruksi. Ini berbeda dengan lindi (air sampah) dari TPA yang kerap mencemari air tanah jika tidak dikelola sempurna.
Proses penggodokan program masih berlangsung di lingkup Pemkot Bogor. Belum ada kepastian soal jadwal groundbreaking maupun target operasional komersial. Namun, wacana ini sudah menjadi salah satu prioritas dalam dokumen perencanaan daerah.
Sebelumnya, sejumlah kota besar di Indonesia seperti Surabaya dan Jakarta juga sudah mulai menjajaki teknologi serupa. Hasilnya, volume sampah yang diangkut ke TPA berkurang drastis, meskipun investasi awal yang dibutuhkan tergolong besar.
Warga yang bermukim di sekitar lokasi calon pembangunan pabrik WTE menjadi pihak yang paling menanti kejelasan. Mereka berharap teknologi ini benar-benar mampu menghilangkan bau busuk dan asap yang selama ini dikeluhkan dari TPA eksisting.
Di sisi lain, pemerintah kota juga harus memastikan sistem pengelolaan abu sisa pembakaran tidak menimbulkan polusi baru. Transparansi soal standar emisi yang digunakan menjadi kunci agar program ini tidak menuai protes di kemudian hari.
Kapasitas pengolahan pabrik WTE di Bogor belum diumumkan secara resmi. Namun, sebagai gambaran, volume sampah yang dihasilkan warga Kota Bogor mencapai ratusan ton per hari. Jika WTE beroperasi penuh, beban TPA bisa berkurang hingga 80 persen.
Pemkot juga masih mengkaji skema pendanaan proyek ini. Opsi kerja sama dengan pihak swasta lewat skema Public Private Partnership (PPP) menjadi salah satu yang paling mungkin ditempuh.
Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan pegiat lingkungan. Sejumlah studi global menyebutkan, pembakaran sampah tetap menghasilkan emisi karbon dioksida, meskipun lebih rendah dari metana. Namun, jika dibandingkan dengan pembusukan di TPA terbuka, teknologi WTE tetap dinilai sebagai opsi yang lebih bersih.
Pemkot Bogor menyadari kekhawatiran itu. Oleh karena itu, kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) akan menjadi syarat mutlak sebelum proyek ini bisa berjalan. Masyarakat pun dijanjikan akan dilibatkan dalam proses konsultasi publik.