BANDUNG — Warga di tiga kota dan kabupaten di Bandung Raya kini harus hidup berdekatan dengan gunungan sampah yang mencapai ribuan ton. Kondisi darurat ini mendorong Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mengeluarkan instruksi tegas: seluruh sampah yang menumpuk di jalan, pasar, dan permukiman harus bersih dalam 72 jam.
Berdasarkan data sementara, volume sampah harian di Bandung Raya—yang meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat—telah melampaui kapasitas TPA regional. TPA Sarimukti dan TPA Legok Nangka disebut sudah tidak mampu menampung kiriman dari puluhan truk sampah setiap harinya.
Akibatnya, sampah mulai menggunung di sejumlah titik kritis seperti Pasar Induk Gedebage, kawasan Dago, dan pinggiran Cimahi. Warga mengeluhkan bau busuk yang menyengat serta lalat yang mengerubungi pemukiman.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa target tiga hari bukan sekadar seremonial. Ia memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di empat daerah untuk mengerahkan seluruh armada pengangkut sampah tanpa henti. "Saya minta semua sumber daya dikerahkan. Ini keadaan darurat, bukan bisnis biasa," ujar Dedi saat meninjau TPA Sarimukti, dikutip dari keterangan resmi.
Selain itu, Pemprov Jabar akan membuka sementara tempat pembuangan darurat di lahan kosong milik pemerintah untuk mengurangi beban TPA utama. Langkah ini diambil agar proses pengangkutan dari pasar dan permukiman tidak terhambat antrean panjang di TPA.
Penumpukan ini dipicu oleh kombinasi faktor: volume sampah yang terus meningkat saat musim libur, keterbatasan kapasitas TPA, serta kendala operasional armada pengangkut. Beberapa truk sampah dilaporkan mogok dan tidak ada penggantian yang cepat dari pihak ketiga.
Di sisi lain, sistem pengelolaan sampah dari hulu—seperti pemilahan di tingkat rumah tangga—belum berjalan optimal. Akibatnya, TPA harus menerima sampah campur yang mempercepat penuhnya lokasi pembuangan.
Data sementara dari DLH Jawa Barat menyebutkan, total sampah yang menggunung di berbagai titik di Bandung Raya diperkirakan mencapai lebih dari 15.000 ton. Angka ini merupakan akumulasi dari sampah yang tidak terangkut selama sepekan terakhir.
Dengan target tiga hari, setiap hari setidaknya 5.000 ton sampah harus berhasil diangkut ke tempat pembuangan atau pengolahan sementara. Ini berarti dibutuhkan peningkatan jumlah ritase truk hingga dua kali lipat dari kondisi normal.
Warga di sekitar titik penumpukan sampah, seperti di Kelurahan Babakan Penghulu dan Kecamatan Batununggal, mengaku sudah beberapa hari tidak bisa membuka jendela rumah. Bau sampah yang membusuk bercampur dengan asap dari pembakaran liar di beberapa lokasi.
Sejumlah ibu rumah tangga juga melaporkan kesulitan membuang sampah rumah tangga karena tempat penampungan sementara (TPS) di lingkungan mereka penuh dan tidak diangkut. Pemerintah kota setempat telah menyiagakan posko pengaduan untuk warga yang membutuhkan evakuasi sampah darurat.
Setelah masa darurat tiga hari, Dedi Mulyadi berencana melakukan evaluasi total terhadap sistem pengelolaan sampah di Bandung Raya. Salah satu opsi yang mengemuka adalah mempercepat pembangunan TPA regional baru atau memperkuat fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (Waste to Energy).
Namun, untuk jangka pendek, Pemprov Jabar mengimbau warga untuk menunda membuang sampah dalam jumlah besar dan mulai memilah sampah organik dan anorganik di rumah masing-masing. "Kuncinya ada di disiplin warga. Pemerintah tidak bisa kerja sendiri," kata Dedi.