JAWA BARAT — Kementerian Pertanian bersama PT Berdikari menegaskan komitmennya membangun sentra peternakan ayam terpadu di Bone. Program ini bukan proyek biasa, melainkan bagian dari proyek strategis nasional yang dipantau langsung pemerintah pusat.
"Ini bukan main-main. Ini adalah proyek strategis nasional yang memang dijaga untuk membangun ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi sekaligus memperkuat posisi peternak rakyat," ujar Agung, perwakilan Kementan, dalam rapat pengembangan di Makassar, Kamis (28/5/2026).
Sulawesi Selatan menjadi salah satu dari lima provinsi prioritas nasional untuk hilirisasi ayam. Alasannya, daerah ini memiliki basis peternakan rakyat yang kuat dan pasokan jagung melimpah sebagai bahan baku pakan.
Kabupaten Bone sendiri dinilai paling siap. Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, menyebut luas lahan jagung di daerahnya mencapai 60 ribu hektare, bahkan bisa tembus 120 ribu hektare pada musim tertentu. "Kami sangat bersyukur karena kebutuhan bahan baku pakan nantinya bisa disuplai dari daerah kami sendiri," katanya.
Agung optimistis jika Bone berhasil, daerah lain akan mengikuti. "Kalau Bone berhasil, Insya Allah tempat lain berhasil," ujarnya.
Model yang dibangun pemerintah menempatkan peternak rakyat sebagai pusat ekosistem. Negara melalui BUMN akan memperkuat sektor hulu dengan menyediakan bibit (DOC) dan pakan. Sementara hasil produksi peternak akan diserap melalui sistem kemitraan terintegrasi.
"Negara melalui BUMN akan menyiapkan bibit dan pakannya, kemudian akan menyerap hasilnya. Semangat inilah yang digagas oleh Bapak Menteri Pertanian," jelas Agung.
Direktur Operasional Bisnis II PT Berdikari, I Putu Yastika, menegaskan program ini bukan sekadar proyek peternakan. "Ini merupakan bagian penting dari pengembangan hilirisasi ayam nasional yang harus dibangun bersama-sama," katanya.
Ia menambahkan, keterbukaan dan kolaborasi menjadi kunci. "Program ini tidak akan berhasil kalau kita tidak membangun komunikasi yang baik dan bersinergi bersama," ujar I Putu.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER), H. Mulyadi Atma, menyambut positif program ini. Menurutnya, peternak mandiri di Sulawesi Selatan selama ini kesulitan mendapatkan kepastian bahan baku dan pasar.
"Negara hadir melalui BUMN dan didukung pemerintah untuk menciptakan kepastian bahan baku dan kepastian pasar. Ini yang selama ini dibutuhkan peternak rakyat," ujarnya.
Bupati Bone memastikan pemda siap membantu percepatan proyek, mulai dari perizinan, tenaga kerja, hingga dukungan material. "Kalau ada hal-hal yang menyangkut izin, lahan, tenaga kerja, maupun material yang bisa kami bantu, kami siap mendukung agar proyek ini bisa berjalan cepat," kata Andi Asman.
Kementan menilai pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi di Bone dapat menjadi model nasional peternakan modern berbasis kemitraan. Program ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat secara langsung.