BANDUNG — Kelangkaan sementara beras premium di rak-rak supermarket Bandung belum memicu aksi borong massal seperti yang dikhawatirkan. Adib Sultan, pengamat ekonomi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mengatakan indikasi di lapangan masih terlalu dini untuk disimpulkan sebagai panic buying.
"Yang lebih mungkin terjadi adalah peningkatan permintaan pada jenis beras tertentu, sementara distribusi dan pasokan di tingkat ritel belum mampu mengimbanginya," ujar Adib, Senin (8/6).
Menurut Adib, panic buying memiliki ciri khas: pembelian dalam jumlah besar secara serentak yang dipicu kekhawatiran akan kelangkaan atau kenaikan harga. Sementara yang terjadi di Bandung saat ini lebih mengarah pada lonjakan permintaan yang tidak diimbangi pasokan.
Fenomena ini, kata dia, juga bisa dipicu pergeseran preferensi konsumen. Masyarakat mulai beralih ke beras premium karena pertimbangan kualitas atau kekhawatiran harga akan naik dalam waktu dekat.
Adib menjelaskan, kenaikan nilai tukar dolar AS memang berdampak pada biaya logistik dan bahan bakar. Namun, untuk komoditas beras yang mayoritas produksi dalam negeri, dampaknya tidak langsung terasa di tingkat konsumen.
"Faktor utama yang perlu dilihat adalah kondisi produksi, distribusi, stok di pasar, dan perilaku konsumen," katanya.
Ia menduga ada penyesuaian distribusi dari produsen atau distributor ke ritel modern. Pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, menyebabkan rak kosong di beberapa tempat.
Adib mengingatkan agar warga tidak terpancing isu kelangkaan yang belum tentu mencerminkan kondisi stok secara keseluruhan. Informasi terbuka dari pemerintah dan pelaku usaha, menurutnya, menjadi kunci untuk mencegah spekulasi di pasar.
"Pemerintah dan pelaku usaha perlu memastikan informasi terkait ketersediaan pangan disampaikan secara terbuka," ujarnya.