Realisasi Pupuk Subsidi di Jawa Barat Capai 54,28 Persen, Stok Urea di Gudang Tasikmalaya Mulai Membludak

Penulis: Candra Setiabudi  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 15:55:31 WIB
Ratusan ton pupuk urea bersubsidi mulai menumpuk di gudang Awipari, Tasikmalaya, Jawa Barat.

TASIKMALAYA — Ratusan ton pupuk bersubsidi jenis urea mulai memenuhi gudang penyangga di Awipari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Para buruh angkut terlihat sibuk memindahkan karung-karung pupuk dari truk ke dalam gudang pada Selasa (30/6/2026). Aktivitas ini menjadi indikasi bahwa pemerintah daerah tengah mempercepat distribusi di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim.

Angka Realisasi vs Target Nasional

Kementerian Pertanian mencatat realisasi penyaluran pupuk bersubsidi hingga 25 Juni 2026 mencapai 54,28 persen dari alokasi nasional yang ditetapkan sebesar 9,55 juta ton. Angka ini masih di bawah separuh dari total kebutuhan tahunan, meskipun masa tanam kedua di sejumlah daerah sudah dimulai.

Pupuk jenis urea menjadi salah satu komoditas paling kritis. Di Gudang Pupuk Indonesia Awipari, stok yang masuk dalam sepekan terakhir meningkat signifikan. Seorang petugas gudang yang enggan disebutkan namanya mengatakan, ritme pengiriman ke pengecer dipercepat untuk mengantisipasi lonjakan permintaan petani di wilayah Priangan Timur.

Mengapa Stok di Gudang Mulai Menumpuk?

Penumpukan di gudang penyangga bukan berarti pasokan berlebih. Sebaliknya, ini menunjukkan adanya jeda antara distribusi dari pusat ke daerah dengan penyerapan di tingkat petani. Beberapa faktor disebut menghambat penyerapan, seperti keterlambatan verifikasi data petani penerima di sistem e-RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok).

Selain itu, harga acuan pupuk bersubsidi yang masih diatur pemerintah membuat sebagian petani memilih menunggu hingga benar-benar memasuki masa tanam. Di Tasikmalaya, musim tanam padi diperkirakan baru puncak pada akhir Juli hingga Agustus 2026.

Dukungan untuk Produksi Beras Nasional

Pemerintah menargetkan produksi beras nasional tetap terjaga meski dihadapkan pada fenomena El Nino dan ketidakpastian harga pangan global. Pupuk bersubsidi menjadi instrumen utama untuk menjaga daya beli petani terhadap input produksi.

Kepala Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya dalam kesempatan terpisah menyebut, alokasi pupuk bersubsidi untuk wilayahnya tahun ini naik 12 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, ia mengingatkan bahwa ketepatan distribusi hingga ke kelompok tani menjadi kunci agar target produksi tidak meleset.

Potensi Kendala di Lapangan

Di tingkat pengecer, keluhan klasik masih terdengar. Beberapa pemilik kios pupuk di Kecamatan Cipedes mengaku kesulitan memprediksi jadwal kedatangan stok dari gudang. Akibatnya, petani kerap datang saat pupuk belum tersedia atau justru kelebihan pasokan di waktu bersamaan.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian berjanji akan memperbaiki sistem monitoring distribusi secara real-time. Langkah ini diharapkan bisa meminimalkan kesenjangan antara stok di gudang dan kebutuhan di sawah.

Reporter: Candra Setiabudi
Sumber: jabar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top