BEKASI — Kepala BPOM Taruna Ikrar mengunjungi National Distribution Center PT Anugerah Pharmindo Lestari di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, pada Kamis (2/7/2026). Kunjungan itu bagian dari pengawasan langsung terhadap rantai distribusi obat nasional.
"Tanggung jawab kami bukan sekadar tanda tangan persetujuan di meja. Melainkan melakukan controlling and evaluating secara nyata untuk memastikan semuanya berjalan baik," ujar Taruna dalam keterangan resmi yang diterima di Bekasi, Sabtu (4/7/2026).
BPOM mengubah pendekatan pengawasan dari yang semula bersifat administratif menjadi proaktif. Petugas kini turun langsung ke gudang dan fasilitas distribusi untuk memonitor proses logistik farmasi.
Pengawasan ini bertujuan menutup potensi risiko selama obat dalam perjalanan dari produsen ke pasien. BPOM memastikan seluruh mata rantai pasok memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat.
Selain pengawasan distribusi, BPOM juga mempercepat akses masyarakat terhadap obat inovatif. Salah satunya obat dengan zat aktif tirzepatide untuk penderita diabetes tipe 2 dan manajemen berat badan.
Proses registrasi obat itu diselesaikan dalam 98 hari dengan tetap menerapkan evaluasi ilmiah ketat. Langkah ini dinilai penting mengingat jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 31 juta jiwa atau 11 persen dari total populasi.
Pengawasan pascapemasaran juga menjadi prioritas BPOM. Pelaku usaha, termasuk distributor, diminta memperkuat sistem farmakovigilans dalam rantai distribusi obat nasional.
"Kami baru saja mengeluarkan regulasi. Vigilans ini sangat penting karena salah satu yang belum berkembang dengan baik adalah tentang farmakovigilans. Apakah itu adverse reactions atau hal-hal lain yang tidak diinginkan, please report it, karena itu adalah fungsi dari post-marketing," ucap Taruna.
Sistem ini bertujuan mencegah dampak merugikan akibat penggunaan obat. Laporan efek samping dari distributor dan tenaga kesehatan menjadi kunci deteksi dini masalah keamanan obat di lapangan.
BPOM berkomitmen melanjutkan evaluasi lapangan secara berkala ke berbagai fasilitas distribusi di seluruh Indonesia. Pengawasan rantai pasok dan penguatan farmakovigilans diharapkan menjaga obat tetap aman, bermutu, serta berkhasiat bagi masyarakat.