BANDUNG — Persaingan tenaga kerja tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis. Perusahaan multinasional, industri kreatif, hingga perusahaan rintisan kini lebih mengutamakan kompetensi ketimbang asal negara calon pekerja. Dalam kondisi itu, kemampuan interpersonal berkembang dari sekadar keterampilan sosial menjadi kompetensi inti.
Dr. Wawan Gunawan menjelaskan bahwa revolusi industri, transformasi digital, ekonomi kreatif, dan kecerdasan buatan telah mengubah karakter dunia kerja. “Persaingan tenaga kerja sekarang tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis, tetapi berlangsung dalam ruang kompetisi global,” ujarnya.
Ia menambahkan, profesional yang memiliki integritas, kemampuan beradaptasi, inovasi, serta mampu bekerja secara kolaboratif memiliki peluang lebih besar untuk bersaing. “Hard skill tetap menjadi fondasi profesionalisme. Namun kemampuan berkomunikasi secara efektif, bekerja dalam tim, menghargai keberagaman budaya, menyelesaikan konflik, membangun jejaring profesional, hingga kepemimpinan kolaboratif menjadi faktor pembeda,” kata Wawan.
Meski peluang terbuka lebar, Wawan mengingatkan masih ada tantangan serius: kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak lulusan memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi belum dibekali keterampilan komunikasi profesional dan kesiapan menghadapi lingkungan kerja multikultural.
“Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Perlu ada jembatan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri agar lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi interpersonal yang dibutuhkan dunia kerja,” jelasnya.
Menurut Wawan, pemerintah memiliki peran strategis dalam membuka ruang kolaborasi antara institusi pendidikan dan dunia usaha. Dengan begitu, lulusan memperoleh kesempatan mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja.
Ia juga menekankan pentingnya sistem yang memberikan ruang kompetisi secara sehat berbasis prestasi, kapasitas, dan profesionalisme. “Semangat untuk belajar dan berprestasi harus terus dijaga. Dunia kerja membutuhkan sumber daya manusia yang profesional, mampu bekerja lintas disiplin, memahami keberagaman budaya, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri,” pungkasnya.
Cita-cita menuju Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan jika pembangunan sumber daya manusia mampu mengikuti perubahan lanskap dunia kerja yang berlangsung cepat. Wawan menilai perubahan ini jangan dipandang sebagai hambatan, melainkan momentum untuk menangkap peluang global.
“Perubahan ini jangan menjadi hambatan. Justru harus menjadi momentum untuk menangkap berbagai peluang yang muncul di tingkat global,” ujarnya.