Pabrik Biskuit Olympia Bandung, Berdiri Sejak 1928, Masih Bertahan di Tengah Pusat Perbelanjaan Modern

Penulis: Candra Setiabudi  •  Minggu, 26 Juli 2026 | 14:04:32 WIB

BANDUNG — Di sudut Jalan Cibadak yang kini dipenuhi ruko dan pusat perbelanjaan, sebuah bangunan tua bercat putih masih setia mengepulkan asap dapur. Itulah Pabrik Biskuit Olympia, pabrik biskuit legendaris yang berdiri sejak 1928 dan belum pernah berhenti berproduksi. Di tengah gempuran merek biskuit impor dan camilan modern, Olympia memilih bertahan dengan resep turun-temurun.

Dari Kebiasaan Masyarakat Kolonial Hingga Lahirnya Merek Olimpiade

Sejarah Olympia tak lepas dari dinamika kawasan Pecinan Bandung pada masa Hindia Belanda. Jalan Cibadak saat itu menjadi pusat perdagangan yang ramai, dihuni banyak keluarga Tionghoa yang berperan sebagai perantara antara pemerintah kolonial dan masyarakat pribumi.

Generasi penerus pabrik, Liem Swie Hong, menceritakan bahwa ide mendirikan pabrik muncul dari pengamatan sederhana. "Pada masa itu masyarakat Tionghoa banyak menjadi middleman. Orang-orang Belanda sangat menyukai biskuit, sehingga muncul gagasan untuk mendirikan pabrik biskuit guna memenuhi kebutuhan mereka," ujarnya.

Nama "Olympia" sendiri diambil dari kata "Olimpiade". Harapannya, produk ini memiliki kualitas terbaik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Pilihan itu mencerminkan semangat kompetisi dan cita-cita besar dari para pendiri.

Produksi Tradisional yang Tak Lekang Zaman

Hingga kini, Olympia masih memproduksi biskuit dengan mesin-mesin tua yang dirawat secara berkala. Tidak ada resep instan atau bahan pengawet berlebihan—semua masih mengikuti formula asli. Para pekerja yang sebagian besar warga sekitar sudah puluhan tahun mengabdi, menjaga konsistensi rasa yang membuat produk ini tetap dirindukan.

Meski banyak pabrik biskuit era kolonial hanya tinggal kenangan, Olympia justru menjadi ikon industri pangan Kota Bandung. Produknya masih mudah ditemukan di warung-warung tradisional hingga toko oleh-oleh khas Bandung. Bahkan, beberapa generasi mengaku biskuit Olympia adalah teman setia minum teh atau kopi sejak kecil.

Tantangan dan Harapan di Usia Hampir Satu Abad

Memasuki usia nyaris satu abad, Olympia menghadapi tantangan besar: perubahan selera konsumen, persaingan dengan produk modern, dan regenerasi pekerja. Namun, pihak pabrik optimistis. Liem Swie Hong menyebut bahwa pihaknya terus berupaya menyesuaikan kemasan dan distribusi tanpa meninggalkan karakter asli biskuit Olympia.

"Kami ingin tetap bertahan, menjaga tradisi, tapi juga terbuka pada inovasi," ujarnya. Keberadaan pabrik ini bukan sekadar tempat produksi, melainkan juga museum hidup yang mengingatkan bagaimana industri pangan Indonesia pernah dibangun dari kebutuhan sehari-hari masyarakat kolonial.

Reporter: Candra Setiabudi
Sumber: visi.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top