JAWA BARAT — Kepastian hengkangnya Romero diumumkan langsung oleh pemainnya sendiri melalui unggahan Instagram yang menyentuh. Dalam pernyataannya, ia mengaku telah mewujudkan mimpinya meninggalkan namanya dalam sejarah klub dengan memimpin Spurs memutus puasa gelar selama 17 tahun.
"Hari ini, saya mengucapkan selamat tinggal pada tempat yang, selama lima musim, lebih dari sekadar klub. Itu adalah rumah saya, tantangan saya, dan tempat di mana keluarga saya serta saya membangun bagian penting dari hidup kami," tulis Romero dalam pernyataannya.
Ia menambahkan, "Ketika saya tiba, saya punya mimpi yang jelas: meninggalkan nama saya di sejarah klub ini. Saya tahu satu-satunya cara adalah melalui kerja keras, pengorbanan, dan mencapai sesuatu yang tampak sulit untuk waktu yang lama: mengangkat trofi lagi. Dan kami melakukannya."
Kesepakatan antara Tottenham dan Atletico Madrid telah tercapai dengan nilai transfer di kisaran £34,2 juta (€40 juta). Yang menarik, Spurs juga menyertakan klausul penjualan kembali sebesar 15 persen dalam kontrak tersebut.
Nominal ini terbilang jauh di bawah nilai jual bek muda Luka Vuskovic yang dilepas ke Brighton & Hove Albion dengan rekor klub sebesar £50 juta pada awal musim panas ini, padahal pemain Kroasia itu tidak pernah tampil dalam laga kompetitif untuk Spurs.
Romero memang menjadi target lama Atletico Madrid. Sejak awal bursa transfer, ia dikabarkan lebih memilih pindah ke klub asuhan Diego Simeone dibandingkan opsi lain, termasuk Inter Milan dan rival berat Spurs, Arsenal.
Menariknya, The Gunners sempat menjajaki kemungkinan memboyong Romero untuk memperkuat lini pertahanan mereka. Namun, langkah itu tidak pernah berlanjut ke tahap negosiasi antar klub. Tottenham enggan melepas kaptennya ke klub Premier League, apalagi ke musuh bebuyutan mereka. Terakhir kali kedua klub melakukan bisnis transfer terjadi 49 tahun lalu, ketika Pat Jennings pindah dari Spurs ke Arsenal dengan nilai dilaporkan £45.000.
Jurnalis Sky Sports, Michael Bridge, menilai kepergian Romero menjadi momen yang tepat bagi semua pihak. "Menurut saya, ini yang terbaik untuk semua pihak. 99,9 persen penggemar Spurs akan setuju dengan itu. Di hari terbaiknya, tidak banyak pemain yang lebih baik darinya—dia tidak membuat kesalahan untuk Argentina, tetapi untuk Tottenham rasanya seperti itu pekerjaannya. Dia memuja Argentina, dan sepertinya Tottenham adalah beban baginya," ujar Bridge dalam podcast spesial musim panas Tottenham.
Musim lalu menjadi catatan kelam bagi Romero. Ia tercatat dua kali diusir wasit saat Spurs berjuang menjauhi zona degradasi Premier League. Bek tengah yang telah mencatatkan 124 penampilan dan 12 gol untuk Spurs itu juga harus menepi di akhir musim karena cedera lutut.
Kontroversi sempat muncul ketika Romero dikabarkan akan menonton final Apertura klub masa kecilnya, Belgrano, melawan River Plate di Argentina, alih-alih hadir di laga krusial Spurs melawan Everton. Meski akhirnya ia tetap hadir, kritik dari suporter sudah telanjur mengalir. Kini, lembaran baru pun menunggu Romero di ibukota Spanyol.