BANDUNG — Pusaran disinformasi yang menghantam pimpinan Kabupaten Sumedang memasuki babak penyelidikan resmi. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui akun Instagram pribadinya @dedymulyadi71, menegaskan tim investigasi bertugas memeriksa seluruh duduk perkara secara menyeluruh. Instruksi tegas pun disampaikan: semua pihak diminta menahan diri sebelum hasil pemeriksaan keluar.
"Pemerintah Provinsi Jawa Barat hari ini membentuk tim investigasi untuk melakukan pemeriksaan terhadap Wakil Bupati Sumedang agar peristiwa itu bisa tersaji secara objektif, bukan berdasarkan opini atau asumsi. Untuk itu, pada semua pihak mohon bersabar sebelum hasil investigasi kami sampaikan, tidak dulu memberikan opini atau narasi," demikian pernyataan resmi yang dibagikan melalui akun miliknya.
Di tengah proses investigasi, Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldila, memberikan klarifikasi terbuka. Ia mengaku kaget dan bingung saat kabar miring tersebut meledak di tengah masyarakat. Fajar menegaskan seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya tidak berdasar.
Ia menduga ada skenario politik tertentu yang sengaja menunggangi pesan berantai untuk mendiskreditkan posisinya. "Saya pun kaget, jujur, ya bingung. Makanya ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Ya, intinya tidak ada apa-apa. Itu semua tuduhan-tuduhan itu tidak berdasar dari pesan berantai, sedang kami dalami… Arahnya tetap ke arah politik juga," ujar Fajar dalam rekaman wawancara yang dipublikasikan akun Instagram tahuekspres.com.
Meski situasi sempat memanas, Fajar memastikan roda pemerintahan di Kabupaten Sumedang tetap berjalan kondusif. Pihaknya kini fokus mendalami siapa dalang di balik penyebaran isu yang mencemarkan nama baiknya tersebut.
Nama sekretaris pribadi berinisial RY ikut terseret dalam pusaran fitnah ini. Dalam kesempatan yang sama, RY tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya saat namanya tiba-tiba menjadi bahan perbincangan di ruang digital. Ia secara tegas membantah seluruh narasi yang beredar dan menyebutnya sebagai fitnah keji.
RY memohon kepada warganet agar segera berhenti membagikan berita bohong tersebut. "Itu juga kaget, tiba-tiba ramai, viral, banyak yang ngirim, segala macam. Resah itu, tetap berita enggak usah dipercaya… Harap sih masyarakat mungkin atau yang ngebaca berita sudah stop, jangan disebar-sebarin lagi. Udah itu mah enggak benar gitu," ungkap RY lewat rekaman yang sama.
Informasi liar yang beredar menyebutkan dugaan kasus ini bermula pada 17 Agustus 2026. Sekretaris pribadi berinisial RY disebut diperintahkan mengambil uang di brangkas rumah dinas. Wabup disebutkan kemudian melakukan pelecehan seksual secara tiba-tiba kepada korban.
Konflik disebut bereskalasi keesokan harinya ketika istri wabup, ADO, memanggil korban untuk dimintai keterangan. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi kebenarannya dan bertentangan dengan bantahan keras dari kedua pihak yang disebutkan.
Publik kini menaruh perhatian penuh pada langkah tim investigasi bentukan Pemprov Jabar. Transparansi penanganan kasus di Sumedang menjadi kunci utama untuk meredam spekulasi liar yang telanjur menggelinding di tengah masyarakat.
Kolaborasi antara klarifikasi langsung para pejabat terkait dan verifikasi faktual oleh tim independen diharapkan mampu menjernihkan suasana. Masyarakat diimbau lebih cerdas menyaring informasi digital dan tidak mudah menelan mentah-mentah kabar yang sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan.