Pencarian

Subsidi LPG 3 Kg Naik 26,2% Jadi Rp 114 Triliun di RAPBN 2027, Ini Dampaknya untuk Masyarakat

Jumat, 28 Agustus 2026 • 19:21:31 WIB
Subsidi LPG 3 Kg Naik 26,2% Jadi Rp 114 Triliun di RAPBN 2027, Ini Dampaknya untuk Masyarakat
Subsidi LPG 3 kg dalam RAPBN 2027 direncanakan naik 26,2% menjadi Rp 114 triliun.

JAWA BARAT — Jakarta — Kenaikan anggaran subsidi LPG 3 kg ini dipicu oleh dua faktor utama: melemahnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya volume distribusi gas bersubsidi yang diproyeksikan mencapai 8,94 juta metrik ton. Pelemahan rupiah membuat biaya impor LPG yang harganya terikat pada Harga Kontrak Saudi Aramco semakin mahal.

Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan kombinasi tekanan nilai tukar, harga impor, dan volume distribusi yang lebih tinggi berpotensi menambah beban fiskal pemerintah secara signifikan. "Kenaikan 26,2% pada subsidi LPG 3 kilogram menunjukkan bagaimana beberapa tekanan biaya dapat masuk ke keuangan negara pada saat yang bersamaan," kata Sana dalam pernyataan resmi, Kamis (27/8).

Subsidi Listrik dan Listrik Tenaga Surya

Selain LPG, subsidi listrik juga diperkirakan naik 17,8% menjadi Rp 130,1 triliun. Kenaikan ini terkait biaya pasokan listrik dan konsumsi pelanggan bersubsidi yang dipengaruhi nilai tukar rupiah, Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP), serta peningkatan pembangkit listrik berbahan bakar gas.

Pemerintah mengandalkan pengembangan tenaga surya untuk menekan biaya energi dalam jangka panjang. Presiden Prabowo Subianto menyatakan program tenaga surya berkapasitas hingga 100 gigawatt dapat menghasilkan penghematan tahunan setidaknya Rp 73,9 triliun melalui penurunan biaya pembangkitan listrik.

Asumsi Makro vs Realita di Lapangan

Rancangan anggaran tersebut mengasumsikan nilai tukar rupiah sebesar 17.500 per dolar AS dan harga ICP 75 dolar AS per barel. Namun, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di level 17.856 per dolar AS pada 18 Agustus, sementara harga ICP mencapai 81,68 dolar AS per barel pada Juli.

Selisih antara asumsi dan realita ini membuat tekanan fiskal berpotensi meningkat. Kementerian Keuangan mencatat total subsidi energi dan pembayaran kompensasi telah mencapai Rp 233 triliun pada paruh pertama tahun 2026, menunjukkan beban menjaga harga energi tetap terjangkau masih terus berlanjut.

Bagi masyarakat, kenaikan anggaran subsidi ini berarti pemerintah masih berkomitmen menjaga harga LPG 3 kg dan tarif listrik tetap terjangkau. Meski demikian, efektivitas penyaluran subsidi kepada kelompok yang berhak tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus dipastikan, mengingat volume distribusi yang terus meningkat setiap tahunnya.

Follow jabarklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tanahair.net

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks