JAWA BARAT — Kala pertama kali bertemu Israa pada 2015, Itab Azzam dan Jack Macinnes sedang berada di Turki. Israa yang saat itu baru tiba dari kehancuran Aleppo menjual rokok di sudut jalan. "Defiant and brimming with joy, despite the horror around her, we instantly fell in love with her – and felt that her story demanded telling," kenang kedua sutradara itu dalam pernyataan resmi. Dari pertemuan itulah lahir gagasan untuk mendokumentasikan kehidupannya.
Film ini merekam perjalanan Israa selama satu dekade penuh. Dimulai dari Aleppo, Suriah, yang porak-poranda akibat perang saudara, keluarganya kemudian melarikan diri ke Turki. Mereka akhirnya sampai di Jerman sebagai bagian dari kebijakan negara itu menerima satu juta pengungsi Suriah.
Perjalanan tersebut penuh risiko. Israa dan keluarganya menyeberangi Laut Tengah dengan perahu karet yang tidak layak, lalu berjalan kaki melintasi Eropa Timur. Pulau Samos di Yunani menjadi persinggahan kritis sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih aman.
Di Festival Film Sundance, panel juri menuliskan apresiasi terhadap kepekaan para sutradara dalam menggambarkan kehidupan Israa dan orang-orang terdekatnya. "It is clear that the filmmakers fully realize the weight of the trust and privilege that comes with undertaking a longitudinal project: to witness the experiences, challenges, and quiet joys of a remarkably resilient family forced to leave their beloved Aleppo," demikian catatan program festival.
Setelah rezim Assad jatuh di Suriah, Israa menghadapi dilema besar. Ia harus mempertimbangkan antara peluang yang telah ia dapatkan di Jerman dan kerinduan untuk kembali ke tanah kelahiran. Keputusan ini menjadi salah satu momen paling emosional dalam film.
Azzam adalah warga asli Suriah. Ia dan Macinnes, pasangan hidup sekaligus rekan kerjanya, tinggal di Damaskus ketika perang saudara pecah pada 2011. Mereka pindah ke London pada Agustus tahun itu dengan rencana kembali beberapa bulan kemudian—rencana yang tak pernah terwujud.
"We left for London in August of that year planning to return a few months later, but that day never came," tulis mereka. Pengalaman pribadi itu memberi perspektif unik dalam penyutradaraan film ini.
One in a Million disutradarai dan diproduseri oleh Azzam dan Macinnes. Mereka bergabung dengan produser pemenang Oscar Raney Aronson-Rath yang dikenal lewat karya 20 Days in Mariupol, serta Will Anderson, James Bluemel, dan Andrew Palmer. Jajaran produser eksekutif meliputi David Fialkow, Nina Sing Fialkow, dan sederet nama lain dari berbagai rumah produksi Eropa dan Amerika.
Film ini akan tayang di bioskop mulai Oktober 2025. Distribusinya ditangani Frontline Features dan PBS Distribution, sementara BBC Storyville terlibat sebagai salah satu rumah produksi. Trailer resmi sudah bisa disaksikan publik sebagai gambaran awal sebelum film lengkap dirilis.
Karya ini menjadi salah satu dokumenter yang paling dinantikan musim penghargaan tahun ini. Dengan sudut pandang personal tentang krisis pengungsi global, One in a Million menawarkan kisah yang jarang terangkat: ketangguhan seorang gadis muda yang tumbuh dewasa di tengah perpindahan paksa.