JAWA BARAT — Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengungkapkan, operasi pemadaman yang berlangsung di Kalbar masih menghadapi tiga hambatan utama. "Operasi masih menghadapi kendala berupa tingkat daya lihat yang masih rendah visibilitas yang rendah, kemudian lahan gambut yang sulit dipadamkan, dan keterbatasan sumber air," ujarnya di Jakarta.
Kondisi itu membuat upaya pemadaman tak bisa hanya mengandalkan satu metode. BNPB pun mengerahkan satgas darat dan udara secara terpadu untuk menekan luas area terbakar di provinsi yang berada di pesisir barat Pulau Kalimantan itu.
Asap pekat akibat kebakaran lahan memang kerap menurunkan jarak pandang, terutama di pagi hari. Hal ini tidak hanya menyulitkan pergerakan personel di lapangan, tetapi juga menghambat penerbangan helikopter untuk operasi water bombing.
Lahan gambut yang terbakar di Kalbar menambah ruwet upaya pemadaman. Api di lapisan gambut bisa menjalar di bawah permukaan tanah, membuat air siraman dari udara tidak cukup efektif memadamkan titik api yang tersembunyi.
Keterbatasan sumber air menjadi tantangan ketiga yang tak kalah serius. Musim kemarau membuat sejumlah sungai dan sumur di lokasi kebakaran menyusut, sehingga pasokan air untuk helikopter dan mobil pemadam menjadi terbatas.
Meski dihambat berbagai kendala, satgas darat dilaporkan telah bekerja di sejumlah wilayah. BNPB mencatat pemadaman berhasil dilakukan di Kubu Raya, Bengkayang, Mempawah, Kayong Utara, Sintang, Sekadau, Kapuas Hulu, Landak, Ketapang, Sambas, dan Kota Singkawang.
"Luas daerah yang bisa dipadamkan ini luar biasa sebesar 262 hektare," lanjut Berton dalam kesempatan yang sama. Angka tersebut menjadi bukti bahwa upaya pemadaman di permukaan tanah masih berjalan efektif.
Dari sisi udara, satgas mengerahkan lima unit helikopter untuk melakukan patroli dan pengeboman air. Hasil pantauan udara digunakan untuk memetakan titik api baru yang muncul, sekaligus memastikan titik yang telah dipadamkan tidak kembali menyala.
"Water bombing dilakukan oleh lima unit helikopter dengan air yang berhasil dijatuhkan sebesar 724.000 liter air. Luas yang dipadamkan sekitar 11 hektare lebih," kata Berton. Jumlah ini menjadi indikator intensitas operasi udara yang dijalankan dalam beberapa hari terakhir.
BNPB juga melaporkan telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebanyak satu kali. Sebanyak 1.600 kg garam atau NaCl ditebarkan ke atmosfer untuk memicu pertumbuhan awan dan menurunkan hujan buatan.
Operasi penanganan karhutla di Kalbar melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga relawan. BNPB memastikan sinergi tersebut tetap dijaga untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus mencegah perluasan kebakaran.
Data titik panas dan laporan patroli udara menjadi dasar penentuan prioritas pemadaman. Dengan begitu, sumber daya yang terbatas bisa difokuskan pada area yang paling berisiko menyebar.
Situasi karhutla di Kalbar masih menjadi perhatian nasional mengingat dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas penerbangan. BNPB belum merinci estimasi total luas lahan yang terbakar maupun kerugian ekonomi akibat kejadian ini.