DEPOK — Pagelaran bertajuk "Bersama dalam Nada, Harmonis dalam Kebersamaan" ini menargetkan partisipasi sedikitnya 300 pemain dari berbagai sanggar seni, komunitas angklung, instansi, hingga masyarakat umum. Ketua Panitia, Winarni, menegaskan bahwa acara ini terbuka secara luas, mulai dari organisasi hingga perorangan, dengan hadiah berupa trofi dan sertifikat bagi setiap peserta.
Kegiatan yang digagas oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok tersebut berkolaborasi dengan Sanggar Budaya Suluk Nusantara (Sanggar SN). Pihak panitia berharap pagelaran perdana ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota (Pemkot) Depok serta sponsor perusahaan sebagai bentuk kepedulian terhadap eksistensi angklung di tengah era digital.
Pemilihan angklung bukan tanpa alasan. Alat musik dari bambu yang berakar pada budaya Sunda ini telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 16 November 2010 di Nairobi, Kenya. Penetapan tersebut menjadi pengingat bahwa angklung bukan sekadar instrumen, melainkan simbol kerja sama tim dan keharmonisan sosial.
Setiap angklung hanya menghasilkan satu nada, sehingga keindahan musik hanya bisa tercipta saat semua nada dimainkan secara bersama-sama. Filosofi inilah yang ingin terus ditanamkan kepada masyarakat, terutama generasi muda yang kini lebih akrab dengan gawai dibanding alat musik tradisional.
Harmoni Angklung tidak berhenti pada satu kali pagelaran. Ketua PWI Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan batu loncatan menuju gelaran yang lebih besar, yakni Festival Angklung Nusantara yang dijadwalkan berlangsung pada November 2027. Pihaknya berharap festival tersebut nantinya menjadi agenda seni budaya tahunan dan kebanggaan warga Kota Depok.
"Harmoni Angklung adalah kegiatan seni budaya yang mempertemukan komunitas angklung sekaligus melestarikan warisan dengan memperkuat kebersamaan melalui harmoni nada dan sosial," ujar Rusdy. Menurutnya, ketika budaya tumbuh, masyarakat akan semakin sehat dan bahagia, serta kota akan memiliki identitas yang membanggakan.
Dengan semangat memeriahkan Hari Angklung Sedunia yang jatuh setiap 16 November, pagelaran ini diharapkan mampu menempatkan Kota Depok sebagai pusat pelestarian angklung modern. Para peserta tidak hanya akan mendapatkan pengalaman bermain musik bersama, tetapi juga berkontribusi langsung dalam menjaga warisan leluhur agar tetap eksis.
Rangkaian acara yang berlangsung di pusat perbelanjaan ini juga menjadi kesempatan bagi masyarakat umum untuk menyaksikan secara langsung kekompakan ratusan pemain angklung dalam membawakan komposisi musik secara harmonis dan berkesinambungan, sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap kesenian tradisional Indonesia.