JAWA BARAT — Menteri Keuangan Suahasil Nazara memaparkan cara kerja baru pengelolaan ekonomi makro Indonesia yang bertumpu pada sinergi tiga pilar utama. Strategi itu ditempuh di tengah meningkatnya dinamika geopolitik dan volatilitas pasar keuangan dunia. Pemerintah menargetkan APBN dan Danantara Indonesia menjadi dua motor penggerak pertumbuhan yang saling melengkapi.
Kementerian Keuangan menempatkan APBN sebagai katalis pertumbuhan dan kesejahteraan, sementara Danantara Indonesia berperan sebagai pendorong investasi strategis di luar anggaran negara. Keduanya dirancang bekerja paralel, bukan saling menggantikan.
"Terus kita dorong APBN supaya menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan publik, mendorong kegiatan-kegiatan prioritas pembangunan untuk mencapai pertumbuhan melalui 8 kluster prioritas pembangunan," ujar Suahasil dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Suahasil menggambarkan APBN masuk ke titik-titik krusial perekonomian, lalu dampaknya menjalar ke sektor lain. Danantara mengambil peran di ruang yang tidak bisa dijangkau anggaran negara, terutama investasi strategis bersama sektor swasta.
"Sinergi antara APBN dan Danantara adalah horizon baru pengelolaan ekonomi kita. APBN masuk ke titik-titik krusial ibarat titik refleksi atau akupunktur, yang kemudian dampaknya menjalar ke seluruh perekonomian," kata Suahasil.
Pilar ketiga adalah sinergi kebijakan fiskal dan moneter melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Forum itu diarahkan mendukung sektor keuangan yang lebih inklusif, dalam, dan stabil.
Suahasil menyebut Indonesia menunjukkan daya tahan pada semester I/2026 dengan pertumbuhan ekonomi solid dan inflasi terkendali. Aliran modal asing kembali masuk ke pasar domestik.
Hingga 14 September 2026, akumulasi inflow melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp140,7 triliun. Angka itu menjadi indikator kepercayaan investor terhadap instrumen rupiah di tengah tekanan global.
Nilai insentif pajak yang diberikan pemerintah sepanjang 2026 diperkirakan mencapai Rp576 triliun, setara 2,2% dari produk domestik bruto (PDB). Insentif itu diarahkan memperkuat daya saing dan daya beli masyarakat.
"Uang ini tidak hilang, melainkan beredar di masyarakat untuk memperkuat konsumsi rumah tangga dan modal investasi sektor-sektor strategis seperti manufaktur dan pertanian," jelas Suahasil.
Pemerintah memproyeksikan enam sektor sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi ke depan. Daftarnya:
Bagi pelaku pasar, kerangka tiga pilar ini memberi sinyal bahwa pemerintah akan menjaga kombinasi belanja negara dan investasi strategis tetap berjalan. Pemegang SBN dan SRBI berkepentingan langsung pada stabilitas arus modal yang disebut Suahasil sudah kembali positif sejak awal tahun.