BOGOR — Konferensi internasional bertema "Biodiversity Beyond Boundaries, Advancing Global Education, Bioscience and Sustainable Landscapes" itu mempertemukan peneliti, akademisi, dan pembuat kebijakan dari sejumlah negara. Dedie menilai tema yang diusung sejalan dengan program Kota Bogor sebagai kota sains yang maju dan berkelanjutan.
Menurutnya, persoalan lingkungan yang dihadapi kawasan tropis menuntut pendekatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebijakan publik. Pendidikan, inovasi, dan partisipasi masyarakat disebutnya sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya itu.
Dedie menyoroti sejumlah tantangan yang dinilainya kian mendesak, mulai dari perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, pertumbuhan populasi, degradasi lahan, hingga tekanan terhadap sumber daya alam.
"Perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, pertumbuhan populasi, degradasi lahan, dan tekanan terhadap sumber daya alam tidak mengenal batas administratif. Karena itu, respons kita juga tidak dapat dibatasi oleh batas-batas tersebut. Kita perlu menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebijakan publik, pendidikan, inovasi, dan partisipasi masyarakat," ungkap Dedie, dikutip dari laman Pemkot Bogor.
Ia meyakini ilmu pengetahuan membantu pemerintah daerah memahami tantangan, sementara pendidikan membangun kesadaran dan inovasi menciptakan solusi. Kolaborasi, lanjutnya, yang mengubah pengetahuan menjadi tindakan bermakna.
Pemerintah Kota Bogor menempatkan warga sebagai mitra yang tidak bisa diabaikan dalam berbagai inisiatif keberlanjutan. Pengetahuan dan pengalaman masyarakat lokal dinilai dapat melengkapi penelitian ilmiah.
"Kami juga menyadari bahwa masyarakat lokal merupakan mitra yang sangat penting. Pengetahuan, pengalaman, dan partisipasi mereka dapat melengkapi penelitian ilmiah dan memastikan bahwa berbagai inisiatif keberlanjutan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan," ujarnya.
Dedie berharap Bogor menjadi ruang hidup bagi perubahan nyata, tempat penelitian bertemu, gagasan dibagikan, kemitraan dibangun, dan ilmu pengetahuan menciptakan dampak bagi masyarakat.
Direktur SEAMEO BIOTROP Edi Santosa memaparkan posisi Asia dalam peta biodiversitas global. Kawasan ini mencakup sekitar 30 persen wilayah dunia, tetapi menyimpan hampir 20 persen biodiversitas dunia, termasuk sejumlah hotspot biodiversitas global.
Lebih dari 17 negara megabiodiversitas berada di kawasan ini, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Ekspansi pertanian dan berbagai bentuk pembangunan membuat konservasi biodiversitas menjadi salah satu prioritas regional.
Pemerintah dan masyarakat menghadapi tekanan akibat perubahan iklim, perubahan penggunaan lahan, pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan, dan polusi. Tantangannya bukan hanya mengembangkan biodiversitas, tetapi memastikan biodiversitas tetap mendukung kehidupan masyarakat dan berkembang berkelanjutan untuk generasi mendatang.
"Tantangan ini membutuhkan ilmu pengetahuan, pendidikan, inovasi, intervensi kebijakan, dan tentu saja kolaborasi regional yang kuat. Di sinilah SEAMEO BIOTROP memiliki peran penting," kata Edi.
SEAMEO BIOTROP merupakan Regional Centre di bawah SEAMEO yang didirikan pada 1968. Mandat utamanya berkontribusi terhadap pengembangan dan pengelolaan biologi tropis secara berkelanjutan di Asia Tenggara.
Fokus lembaga ini mencakup penelitian, peningkatan kapasitas dan pelatihan, serta penyebarluasan pengetahuan dan informasi mengenai biologi tropis. Melalui mandat tersebut, SEAMEO BIOTROP berupaya menghasilkan dan berbagi pengetahuan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memfasilitasi kerja sama regional, serta mendukung pengelolaan sumber daya hayati tropis dan biodiversitas secara berkelanjutan.