JAWA BARAT — Mochi jadi camilan khas Jepang yang selalu diburu wisatawan saat berkunjung ke Negeri Sakura. Di balik teksturnya yang kenyal, makanan dari beras ketan ini menyimpan tradisi dan keunikan yang tak banyak orang tahu. Berikut lima faktanya.
Mochi bukan sekadar oleh-oleh. Camilan ini terikat erat dengan budaya Jepang, dari ritual tahun baru sampai bekal energi para petani di musim dingin. Simak poin-poinnya.
Menjelang Tahun Baru Jepang, tepatnya 25 sampai 28 Desember, digelar tradisi bernama Mochitsuki. Acara ini berisi kegiatan menumbuk beras ketan untuk membuat mochi.
Prosesnya butuh minimal dua orang dengan perlengkapan kine (palu kayu), usudai (alas usu), dan usu (lesung tradisional). Sekilas sederhana, tapi ritme tumbukan harus konsisten.
Kalau satu orang gagal mengikuti ritme, orang lain bisa terluka. Konsentrasi penuh jadi syarat wajib dalam tradisi ini.
Masyarakat Jepang kadang membuat mochi bukan untuk disantap, melainkan sebagai dekorasi ruangan. Salah satu contohnya Kagami mochi, yang berarti kue beras mochi cermin.
Hiasan ini terdiri dari dua mochi berbentuk bulan yang dipadukan dengan daidai, jeruk khas Jepang. Daun jeruk diletakkan di atas kedua mochi.
Kagami mochi dipajang di berbagai ruangan mulai akhir tahun hingga 11 Januari. Setelah periode itu, hiasan biasanya baru diturunkan.
Mochi tidak mudah kedaluwarsa. Camilan ini bisa tetap lezat dan segar asal disimpan dengan cara yang tepat.
Caranya cukup simpan di lemari es. Dengan metode ini, mochi bisa bertahan sampai beberapa minggu tanpa kehilangan tekstur kenyalnya.
Mochi dianggap sehat karena bebas gluten dan kolesterol. Kandungan itu membuatnya aman dikonsumsi dan jadi sumber energi yang mengenyangkan.
Para petani di Jepang sering makan mochi sebagai bekal energi saat musim dingin. Mochi juga lekat dengan tradisi kuliner setempat.
Warga Jepang biasa menyantap sakura mochi saat musim semi atau isobe maki panggang di musim dingin. Dua varian itu jadi penanda pergantian musim.
Banyak orang menganggap mochi dan dango adalah makanan yang sama. Padahal bahan dasarnya berbeda.
Mochi dibuat dari mochigome atau beras ketan, sementara dango berasal dari tepung beras kering. Perbedaan bahan ini berpengaruh pada tekstur dan cara pengolahannya.
Dari tradisi menumbuk beras sampai fungsi sebagai hiasan, mochi punya cerita yang lebih panjang dari sekadar camilan manis. Lima fakta di atas bisa jadi bekal sebelum kamu mencobanya langsung.