PURWAKARTA — Ketimpangan akses kerja bagi generasi muda menjadi pesan utama yang dibawa Aliansi Mahasiswa Purwakarta dalam mimbar bebas di depan kantor pemerintah daerah. Aksi tersebut tidak berbentuk demonstrasi dengan daftar tuntutan tertulis, melainkan ruang bebas bagi mahasiswa untuk melontarkan aspirasi lewat orasi, puisi, narasi, dan pertunjukan teatrikal.
Koordinator Aksi Aliansi Mahasiswa Purwakarta, Muhammad Jalaludin, menyebut kegiatan itu sebagai momentum refleksi bersama. Menurutnya, suara-suara yang digaungkan secara bebas akan membentuk kekuatan kolektif di Purwakarta.
"Ini menjadi sebuah momentum yang kemudian kita bisa secara bebas melontarkan aspirasi. Walaupun tidak secara terstruktur dituliskan poin per poin tentang tuntutannya, suara-suara ini terus digaungkan dan kemudian membentuk sebuah kekuatan di Purwakarta," ujar Jalaludin, Jumat (30/10/2026).
Dalam pertunjukan teatrikal, mahasiswa menampilkan kisah sulitnya mencari pekerjaan, termasuk kondisi lulusan sarjana yang belum juga mendapat kerja. Adegan lain menyindir janji politik soal penciptaan 19 juta lapangan kerja.
Pertunjukan juga menggambarkan praktik melamar kerja melalui jalur kedekatan atau orang dalam. Jalaludin menilai persoalan itu perlu menjadi bahan refleksi bersama karena tidak semua pemuda punya kesempatan dan akses yang sama, meski sudah menempuh pendidikan tinggi.
"Kadang ada orang yang sudah menempuh pendidikan tinggi, tetapi dikalahkan dengan orang-orang yang memiliki akses terhadap kekuasaan," katanya.
Menurut Jalaludin, kondisi tersebut menunjukkan masih ada persoalan dalam pemerataan kesempatan kerja yang perlu mendapat perhatian pemerintah. Kegiatan mimbar bebas juga diarahkan untuk menyatukan suara mahasiswa dan pemuda di Purwakarta.
Ia menyebut peringatan Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Momentum itu, kata dia, perlu dijadikan pijakan untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan.
Pada penutupan kegiatan, mahasiswa kembali mengucapkan Sumpah Pemuda. Mereka sekaligus menyampaikan peringatan kepada pemerintah pusat maupun daerah agar tidak mengabaikan suara mahasiswa, pemuda, dan masyarakat.
Jalaludin menegaskan mimbar bebas merupakan bagian dari konsolidasi untuk memperkuat gerakan mahasiswa ke depan. Sebelumnya, Aliansi Mahasiswa Purwakarta telah menggelar aksi di DPRD Purwakarta.
Menurutnya, demonstrasi tetap menjadi pilihan ketika mahasiswa hendak menyampaikan tuntutan berdasarkan kajian yang terstruktur. Mimbar bebas dimanfaatkan untuk menyampaikan kritik sekaligus membangun kekuatan bersama sebelum menentukan agenda gerakan selanjutnya.