Harga BBM Pertamina 1 November 2026: Pertalite Tetap Rp 10.000, Pertamax Mulai Rp 15.150

Penulis: Darmawan Putra  •  Minggu, 01 November 2026 | 10:38:31 WIB
Pertamina mempertahankan harga Pertalite Rp 10.000 per liter dan Biosolar subsidi Rp 6.800 per liter per 1 November 2026.

JAWA BARAT — Pertamina mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) di seluruh Indonesia pada 1 November 2026, dengan Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan Biosolar subsidi Rp 6.800 per liter. Harga nonsubsidi seperti Pertamax dijual mulai Rp 15.150 hingga Rp 16.300 per liter tergantung wilayah. Stabilitas harga ini berlaku di tengah belum adanya pembaruan data resmi di situs Pertamina Patra Niaga.

Pertamina Patra Niaga belum memperbarui daftar harga BBM di situs resminya per 1 November 2026. Halaman harga yang tampil masih merujuk pada penetapan awal September 2026. Meski begitu, tidak ada indikasi kenaikan maupun penurunan harga pada awal bulan ini.

Pertalite yang berstatus BBM penugasan pemerintah masih dipatok Rp 10.000 per liter. Biosolar sebagai BBM bersubsidi tetap Rp 6.800 per liter. Kedua harga itu berlaku merata di hampir seluruh wilayah yang mencantumkan keduanya dalam daftar.

Pertamax Beda Harga Antardaerah

Untuk BBM nonsubsidi, Pertamax di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur dijual Rp 15.950 per liter. Harga itu sama dengan Bali dan Nusa Tenggara Barat. Sementara Nusa Tenggara Timur memakai patokan serupa untuk Pertamax.

Wilayah FTZ Batam menawarkan Pertamax lebih murah, yakni Rp 15.150 per liter. Adapun FTZ Sabang menjual Pertamax Rp 14.950 per liter, harga terendah dalam daftar.

Di luar Jawa, harga Pertamax lebih tinggi. Aceh menetapkan Rp 16.200 per liter. Kelompok Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua mematok Rp 16.300 per liter. Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Utara juga Rp 16.300 per liter.

Pertamax Turbo dan Dexlite Ikut Bervariasi

Pertamax Turbo di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dijual Rp 19.600 per liter. Di Aceh dan kelompok Sumatera-Kalimantan-Sulawesi-Papua harganya Rp 20.000 per liter. Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Utara menetapkan Rp 20.450 per liter, tertinggi dalam daftar. FTZ Batam menjual Rp 18.550 per liter.

Pertamax Green 95 hanya tersedia di enam wilayah, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, dengan harga Rp 19.150 per liter.

Untuk diesel nonsubsidi, Dexlite di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Rp 23.700 per liter. Di Aceh, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Rp 24.200 per liter. Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Utara Rp 24.750 per liter. FTZ Batam dan Sabang masing-masing Rp 22.500 dan Rp 22.150 per liter.

Pertamina Dex di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Rp 25.200 per liter. Di Aceh, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Rp 25.750 per liter. Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Utara Rp 26.300 per liter. FTZ Batam menjual Rp 23.950 per liter.

Mengapa Harga Antardaerah Berbeda

Selisih harga BBM Pertamina antardaerah dipengaruhi Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang tarifnya berbeda tiap provinsi. Faktor lain adalah kondisi masyarakat dan perkembangan harga minyak dunia, terutama untuk BBM nonsubsidi.

Beberapa wilayah juga memiliki catatan khusus. Nusa Tenggara Timur mencantumkan Biosolar nonsubsidi Rp 23.600 per liter di samping versi subsidi. Kelompok Maluku, Maluku Utara, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah tidak mencantumkan Pertamax Turbo dan Pertamina Dex dalam daftar. FTZ Sabang tidak mencantumkan Pertamax Turbo, Pertamax Green 95, dan Pertamina Dex.

Bagi konsumen, kepastian harga di awal November ini memberi ruang perencanaan biaya transportasi dan operasional usaha. Pertamina sendiri biasanya mengumumkan penyesuaian harga pada awal bulan, sehingga pembaruan data di situs Pertamina Patra Niaga masih dinanti.

Reporter: Darmawan Putra
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top