BANDUNG — Pertemuan di Gedung Pakuan itu merupakan tindak lanjut dari pembahasan keduanya dalam Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) ke-44 yang berlangsung di Bandung pada 20–22 Oktober 2026. PII menawarkan kontribusi keinsinyuran untuk membantu pemerintah daerah mencari solusi atas persoalan konektivitas antarkota di Jawa Barat.
Fokusnya pengembangan jaringan transportasi umum yang terintegrasi, bukan sekadar penambahan armada. Ilham menilai Jawa Barat punya potensi besar di sektor itu.
Kendaraan angkutan umum yang dikembangkan nantinya diarahkan menggunakan teknologi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Proses produksinya diharapkan melibatkan industri lokal sehingga memberi nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Menurut Ilham, kebutuhan kendaraan untuk angkutan umum dapat menjadi kesempatan bagi industri dalam negeri, termasuk perusahaan karoseri dan pelaku usaha lokal, untuk terlibat dalam proses produksi.
"Jaringan transportasi umum antarkota di Jawa Barat membuka peluang bagi berkembangnya industri yang dapat dikelola masyarakat melalui pembuatan kendaraan transportasi publik. Jadi, bukan hanya pemanfaatan transportasinya, tetapi proses produksinya juga bisa membuka lapangan pekerjaan dan mengembangkan industri lokal," ujar Ilham dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
PII mengusulkan agar industri karoseri lokal tidak hanya memproduksi kendaraan angkutan penumpang. Mereka juga diminta menyiapkan kendaraan pengangkut sampah yang dibutuhkan berbagai kota di Jawa Barat.
Untuk mendukung rencana tersebut, Ilham dan Dedi sepakat melibatkan kalangan akademisi, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam kegiatan riset awal dan perancangan kendaraan.
Dedi Mulyadi menilai pembenahan transportasi publik harus berjalan seiring dengan perbaikan tata ruang dan konektivitas antarkota. Sistem transportasi umum juga perlu memperhatikan nasib para sopir angkutan konvensional yang selama ini menggunakan kendaraan berusia tua.
Pemprov Jawa Barat tengah merancang skema transisi bagi para sopir tersebut. Sebagian berpeluang dialihkan menjadi tenaga kebersihan di tingkat provinsi maupun kota, sedangkan sebagian lainnya tetap bekerja sebagai sopir angkutan umum dengan skema kepemilikan kendaraan.
"Kami ingin memperbaiki konektivitas tata ruang dan transportasi publik di kawasan Jawa Barat. Kami juga ingin mengubah nasib para sopir yang saat ini menggunakan kendaraan sudah usang. Sebagian direncanakan menjadi tenaga kebersihan provinsi dan kota, sementara sebagian lainnya tetap menjadi sopir angkutan umum, tetapi menjadi bagian dari kepemilikan angkutan tersebut," kata Dedi.
Dedi menekankan pentingnya pengembangan kendaraan angkutan umum yang memperhatikan karakteristik dan kultur masyarakat setempat. Modernisasi transportasi tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga harus memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Dari sisi PII, Ilham menyebut pengembangan jaringan transportasi publik antarkota tidak hanya meningkatkan mobilitas masyarakat. Ada peluang pertumbuhan industri lokal yang menyertainya.