JAWA BARAT — Michael Laudrup mengaku rela melewatkan momen terbesar sepak bola Denmark, yakni gelar Euro 1992, demi fokus membela Barcelona. Legenda hidup Denmark itu menegaskan keputusannya mundur dari tim nasional pada 1990 bukan penyesalan, melainkan pilihan karier yang ia ambil dengan sadar.
Keputusan Laudrup meninggalkan tim nasional Denmark dua tahun sebelum Euro 1992 menjadi salah satu ironi terbesar dalam sejarah sepak bola Eropa. Gelandang kreatif itu memilih berkonsentrasi penuh pada karier klubnya bersama Barcelona, tepat ketika Denmark justru mencatat prestasi paling bersejarah dengan menjuarai Piala Eropa untuk pertama kalinya.
Denmark melaju ke Euro 1992 setelah Yugoslavia dikeluarkan akibat perang di Balkan. Di partai final, gol John Jensen dan Kim Vilfort memastikan kemenangan 2-0 atas Jerman. Tim Dinamit itu meraih trofi tanpa diperkuat salah satu pemain terbaik yang pernah mereka miliki.
Alasan Laudrup Tinggalkan Timnas Denmark pada 1990
Laudrup mengungkapkan bahwa keputusannya mundur dari tim nasional lahir dari ketidakcocokan gaya bermain. Ia menilai sepak bola yang diterapkan Denmark saat itu tidak sesuai dengan cara ia bermain di Barcelona.
"Saya juga baru di awal karier di Barça, yang sangat penting bagi saya, dan kedua tim bermain sepak bola yang benar-benar berbeda. Saya tidak benar-benar senang dengan cara kami bermain di tim nasional, tapi itu selalu keputusan pelatih," ujar Laudrup kepada FourFourTwo.
Menurutnya, Denmark sudah hampir pasti gagal lolos kualifikasi Euro 1992 setelah kalah dari Yugoslavia di kandang. Keyakinan itu yang membuatnya memutuskan fokus seratus persen pada Barcelona.
Denmark Tetap Melaju Tanpa Laudrup
Yugoslavia memang menjuarai grup kualifikasi. Namun sanksi akibat perang membuat Denmark mendapat tempat di putaran final. Tawaran untuk bergabung di menit terakhir sempat datang kepada Laudrup, tetapi ia menolaknya.
"Orang-orang bertanya apakah saya ingin pergi, tapi saya tidak mau bergabung di saat-saat terakhir, meskipun saya bisa. Saya merasa itu tidak adil," kata Laudrup.
Pilihan itu membawa konsekuensi pahit. Ketika rekan-rekannya mengangkat trofi di Swedia, Laudrup hanya bisa menyaksikan dari jauh. Meski begitu, ia tidak menyebutnya sebagai penyesalan, melainkan konsekuensi logis dari prioritas yang ia tetapkan sendiri.
Kembali pada 1993 Usai Panen Trofi di Barcelona
Laudrup akhirnya kembali memperkuat Denmark pada 1993. Pemicunya adalah kesuksesan bersama Barcelona, termasuk tiga gelar liga dan satu Piala Eropa. Setelah semua target klub tercapai, ia merasa siap kembali ke tim nasional.
Kebetulan itu juga menjadi periode kedua kalinya Spanyol menghadang Denmark di kualifikasi, setelah sebelumnya menghentikan langkah mereka di Euro 1984 dan Piala Dunia 1986.
"Spanyol sudah memberi saya begitu banyak di level personal dan klub, lalu lucunya betapa banyak yang mereka ambil dari saya bersama tim nasional," ucap Laudrup.
Pensiun Usai Perempat Final Piala Dunia 1998
Laga ke-100 Laudrup bersama Denmark terjadi di Piala Dunia 1998. Kekalahan di perempat final dari Brasil menjadi titik akhir karier internasionalnya. Ia menilai panggung itu sebagai tempat pensiun yang tepat.
Sebelumnya, Laudrup sempat meninggalkan Real Madrid dan bergabung dengan Ajax Amsterdam. Di klub Belanda itu ia menemukan lingkungan yang tepat untuk tetap bermain di level tinggi sebelum menutup karier bersama tim nasional.
"Saya bergabung dengan Ajax, tim itu luar biasa, dengan De Boer bersaudara, Danny Blind, Edwin van der Sar, dan Jari Litmanen. Kami menang double, jadi saya melanjutkan bersama tim nasional, kami lolos ke Piala Dunia dan kalah di perempat final dari Brasil," tutup Laudrup.