JAWA BARAT — Sejumlah program musik televisi Indonesia pada era 1990-an sampai 2000-an membangun identitas lewat jingle, instrumental, dan bumper yang khas. Dahsyat di RCTI, Inbox di SCTV, MTV, dan Derings termasuk tayangan yang suara pembukanya melekat di ingatan penonton. Penelusuran arsip dan penelitian akademik menunjukkan fungsi audio itu lebih luas dari sekadar pengantar.
Dahsyat pertama kali mengudara di RCTI pada 24 Maret 2008. Format awalnya adalah pertunjukan musik dengan tangga lagu populer, pemutaran video klip, dan obrolan bersama bintang tamu. Luna Maya, Raffi Ahmad, dan Olga Syahputra lantas menjadi trio pembawa acara yang paling lekat dengan program tersebut.
Seiring waktu, Dahsyat melebar dari sekadar panggung musik. Permainan, kuis, dan humor masuk ke dalam acara, mengubahnya menjadi variety show. Pergeseran format itu dibahas dalam penelitian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa berjudul Produksi Program Televisi (Studi Kasus Acara Variety Show Dahsyat di RCTI).
Elemen audio yang paling sering dikaitkan dengan Dahsyat adalah seruan "Lalala yeyeye". Laporan praktik kerja produksi Dahsyat yang dipublikasikan Universitas Esa Unggul mencatat yel-yel itu muncul pada segmen keenam, menjelang acara berakhir.
Artinya, seruan tersebut memang bagian dari identitas audio Dahsyat. Namun menyebutnya sebagai lagu opening resmi tidak sepenuhnya tepat. Penonton yang ingin mengulang suasana awal program bisa menelusuri arsip di kanal YouTube RCTI Entertainment, termasuk video bertajuk "TOTAL FLASHBACK! The Very First Episode of Dahsyat in 2008 Was So Cool!" serta kompilasi kenangan episode 1 sampai 2500.
Inbox tayang perdana di SCTV pada 3 Desember 2007 dengan konsep musik pagi. Siarannya digelar langsung dari pusat perbelanjaan dan lokasi ramai, menyajikan tangga lagu, video klip pilihan pemirsa, penampilan musisi, plus interaksi lewat SMS dan sambungan video 3G.
Penelitian Farida Fefrina (2009) dari Universitas Mercu Buana berjudul Opini Mahasiswa Seni Musik IKJ terhadap Program Musik Inbox di SCTV menyebut format acara ini menggabungkan pertunjukan musik, wawancara, dan permintaan lagu dari pemirsa. Penonton jadi ikut menentukan lagu, bukan cuma menonton dari jauh.
Soal musik pembuka resmi, dokumentasi yang tersedia belum cukup untuk memastikan judul maupun komposisinya. Karakter Inbox lebih banyak terbaca dari suasana panggung dan gaya interaksi pembawa acara.
MTV masuk ke Indonesia lewat siaran MTV Asia di ANTV pada pertengahan 1990-an. Pada 2003, MTV Indonesia hadir melalui Global TV dengan program-program berpendekatan lokal. Identitas audionya tidak bergantung pada satu lagu pembuka, melainkan pada bumper dan station ID.
Elemen itu muncul sebagai pengenal stasiun, pembatas antartayangan, atau penanda sebelum program kembali dari jeda iklan. Penelitian Cara Wimba dan Tata Ungkap Bumper MTV: Sebuah Kajian Bahasa Rupa Media Rupa Rungu Dinamis dalam Wimba: Jurnal Komunikasi Visual ITB Vol. 1 No. 1 (2009) menganalisis 20 bumper MTV.
Hasilnya, bumper-bumper itu memakai beragam teknik: animasi dua dimensi, animasi tiga dimensi, clay, fotografi, sampai pengambilan gambar langsung. Bumper disebut berperan membangun identitas stasiun televisi. Rekaman "Opening Acara MTV Ampuh ANTEVE (1997)" yang diunggah Museum Penyiaran Indonesia memperlihatkan konsep pembukaan program tangga lagu legendaris itu di akhir 1990-an.
Jingle dan instrumental bekerja sebelum pembawa acara sempat bicara. Dalam hitungan detik, penonton tahu sedang menonton program apa. Fungsi itulah yang membuat musik pembuka bertahan sebagai penanda zaman, bahkan ketika format acaranya sudah berubah.
Bagi industri televisi Indonesia, arsip audio-visual semacam ini menyimpan jejak cara program membangun kedekatan dengan pemirsanya. Penelusuran sejarahnya masih terbuka, terutama untuk program-program yang dokumentasi resminya belum lengkap.