JAWA BARAT — Bank Mandiri Area Solo Raya mencatat penyaluran kredit Rp 4,9 triliun hingga Juni 2026, naik 3 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 4,7 triliun. Pertumbuhan ini terjadi saat kredit perbankan di wilayah Solo Raya secara umum justru stagnan, bahkan turun hingga 3 persen pada semester pertama. Perbaikan juga terlihat dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang turun dari 1,98 persen menjadi 1,94 persen.
Paragraf pembuka: Capaian tersebut dipaparkan Kepala Bank Mandiri Area Solo Raya Isdaryani dalam sarasehan kunjungan kerja anggota Komisi XI DPR RI Didik Haryadi di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo. Turut hadir Kepala OJK Solo Mohammad Mufid, Kepala Bank Indonesia Solo Dwianto Cahyo Sumirat, serta sejumlah pimpinan bank Himbara di Solo. Dalam forum itu, Isdaryani membeberkan rincian kinerja perseroan di tengah tekanan sektor pembiayaan regional.
Kredit UMKM Naik, 35.857 Debitur Terlayani
Dari total kredit Rp 4,9 triliun yang disalurkan, sebanyak Rp 2,946 miliar mengalir ke sektor UMKM dengan 35.857 debitur. Isdaryani menyebut nilai pembiayaan ke UMKM terus meningkat dalam empat tahun terakhir.
"Bank Mandiri hadir dan mendukung bisnis debitur UMKM agar naik kelas dan peningkatan kapasitas produksi melalui pembiayaan," kata Isdaryani.
Pertumbuhan kredit yang dibarengi penurunan NPL menunjukkan kualitas aset tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah Bank Mandiri Area Solo Raya tercatat 1,94 persen, membaik dari 1,98 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dana Pihak Ketiga Tumbuh 5,6 Persen
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) masyarakat di Bank Mandiri Area Solo Raya naik sekitar 5,6 persen menjadi Rp 9,5 triliun, dari sebelumnya Rp 9,0 triliun. Pertumbuhan juga terjadi pada Current Account Savings Account (CASA) atau dana murah berupa giro dan tabungan yang naik 5,5 persen.
Kenaikan DPK dan CASA menjadi modal penting bagi bank untuk menjaga likuiditas sekaligus menekan biaya dana. Semakin besar porsi dana murah, semakin leluasa bank menyalurkan kredit dengan bunga kompetitif.
Pesan DPR: Jangan Sekadar Kejar Target
Anggota Komisi XI DPR RI Didik Haryadi mengingatkan bank-bank Himbara, termasuk BRI, BNI, BTN, BSI, Bank Mandiri, dan Bank Jateng, agar tidak hanya mengejar target pencapaian.
"Yang terpenting bagi saya bukanlah tingginya angka-angka yang tercapai, tapi bagaimana kredit yang disalurkan juga dirasakan oleh wong cilik, pelaku usaha kecil, bukan hanya pengusaha besar. Pesan saya, bekerjalah dengan hati, jangan hanya mengejar target," kata Didik Haryadi.
Pesan itu menyoroti peran bank pelat merah sebagai agen pembangunan, bukan sekadar lembaga komersial. Bagi pelaku UMKM di Solo Raya, akses pembiayaan yang mudah dan murah menjadi penentu apakah mereka bisa bertahan di tengah pelemahan daya beli.
Penutup: Kinerja Bank Mandiri Area Solo Raya menjadi pengecualian di tengah stagnasi kredit regional. Jika tren positif ini berlanjut, kontribusi bank pelat merah terhadap pertumbuhan usaha kecil di Solo Raya berpeluang makin besar pada semester kedua 2026.