PKK Sukajadi Purwakarta Pasarkan Keripik Pisang Melalui Platform Digital

Penulis: Redaksi  •  Senin, 04 Mei 2026 | 17:14:01 WIB

PURWAKARTA — Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Sukajadi, Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta, mulai mentransformasi hasil perkebunan pisang menjadi produk UMKM bernilai jual tinggi. Para ibu rumah tangga ini tidak lagi sekadar menjual pisang mentah, melainkan mengolahnya menjadi keripik dengan kemasan modern untuk menembus pasar digital.

Upaya tersebut merupakan bagian dari program penguatan ekonomi lokal yang didukung penuh oleh pemerintah desa setempat. Sejak Jumat (1/5), aktivitas produksi di rumah-rumah warga mulai intensif guna memenuhi permintaan pasar yang kini merambah ke platform digital seperti WhatsApp. Langkah strategis ini diambil untuk memanfaatkan potensi perkebunan pisang yang melimpah di wilayah tersebut.

Rebranding Produk untuk Saingi Pasar Modern

Kepala Desa Sukajadi, Nurdin, menjelaskan bahwa keterlibatan ibu-ibu PKK memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Sebelumnya, para pelaku UMKM di desa tersebut menghadapi kendala klasik berupa kemasan yang terlalu sederhana dan jangkauan pemasaran yang sangat terbatas.

Pemerintah desa kemudian melakukan pendampingan untuk memperbaiki identitas visual produk. Melalui program rebranding, keripik pisang buatan warga kini tampil dengan desain kemasan yang lebih profesional dan menarik minat konsumen dari luar daerah.

“Kami dorong rebranding agar produk lebih menarik dan mudah dikenal. Sekarang sudah mulai dipasarkan tidak hanya secara langsung, tetapi juga lewat media seperti WhatsApp,” ujar Nurdin, Jumat (1/5).

Transformasi Penjualan dari Bahan Mentah ke Olahan

Sebelum adanya inovasi ini, sebagian besar warga hanya menjual pisang hasil kebun dalam bentuk mentah dengan harga yang relatif rendah. Kehadiran unit produksi keripik pisang PKK mengubah pola pikir masyarakat dalam mengelola hasil bumi. Proses pengolahan mulai dari mengupas, mengiris, hingga penggorengan dilakukan secara kolektif dengan standar kualitas yang terjaga.

Nurdin menambahkan bahwa pisang di Desa Sukajadi kini memiliki nilai ekonomis yang lebih stabil setelah diolah menjadi camilan renyah. Identitas merek yang kuat kini menjadi modal utama warga untuk bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk menyasar konsumen milenial yang aktif di media sosial.

“Pisang di sini tidak hanya dijual mentah, tetapi sudah diolah menjadi berbagai produk seperti keripik. Peran ibu-ibu PKK sangat besar dalam mengembangkan ini,” lanjutnya.

Dampak Langsung terhadap Pendapatan Ibu Rumah Tangga

Kegiatan produksi ini tidak hanya sekadar rutinitas ekonomi, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga di Desa Sukajadi. Para ibu rumah tangga mengaku mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup membantu stabilitas finansial keluarga di tengah tantangan ekonomi saat ini.

Perubahan pada aspek kemasan terbukti menjadi faktor penentu meningkatnya kepercayaan diri warga saat menawarkan produk. Konsumen kini tidak ragu membeli dalam jumlah banyak karena tampilan produk yang dianggap lebih bersih, rapi, dan memiliki identitas yang jelas.

“Dulu kami hanya jual pisang mentah. Sekarang bisa diolah jadi keripik, hasilnya lebih terasa. Apalagi sekarang sudah ada kemasan bagus, jadi lebih percaya diri untuk dijual,” kata salah satu anggota PKK Desa Sukajadi.

Pemerintah Desa Sukajadi berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan pemasaran produk UMKM ini ke platform e-commerce yang lebih besar. Sinergi antara pemerintah desa dan semangat kolaborasi ibu-ibu PKK diharapkan mampu menjadikan keripik pisang sebagai simbol kemandirian ekonomi masyarakat Sukajadi secara berkelanjutan.

Reporter: Redaksi
Back to top