JAWA BARAT — Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Sarman Simanjorang memperingatkan Rabu (13/5/2026) bahwa pelemahan rupiah yang terus berlanjut melampaui batas aman bagi stabilitas operasional perusahaan. Tekanan eksternal dan domestik telah mendorong mata uang Garuda menembus rekor terendah, menciptakan ketidakpastian di kalangan pelaku usaha dalam mengelola arus kas dan biaya produksi.
Melemahnya rupiah langsung berdampak pada struktur biaya perusahaan yang mengandalkan impor. Kenaikan harga bahan baku dan tarif logistik memaksa pengusaha mengevaluasi ulang strategi pricing dan efisiensi. Sektor manufaktur, elektronik, tekstil, dan otomotif—yang bergantung pada komponen impor—paling terasa tertekan.
Menurut Sarman, pelaku usaha sudah mulai menjalankan berbagai opsi mitigasi: mengoptimalkan efisiensi biaya operasional, mencoba substitusi dengan bahan baku lokal (meski tidak semua sektor bisa melakukannya), dan mengurangi ukuran produk tanpa menaikkan harga. Strategi ini dirancang agar produk tetap kompetitif dan terjangkau di pasaran.
Usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi lapisan paling rapuh menghadapi tekanan kurs. Berbeda dengan korporasi besar yang bisa menabung cadangan mata uang asing atau melakukan hedging, UMKM langsung tergerus saat biaya naik. Kenaikan harga bahan baku dan distribusi sulit diteruskan sepenuhnya ke konsumen karena takut penjualan menurun dan barang tidak laku.
Ini menciptakan squeeze margin yang berbahaya: pemasukan tidak tumbuh, tapi biaya membengkak. Jika tren melanjut, UMKM akan menekan pos terbesar yang bisa dikurangi dengan cepat: penggajian dan headcount. Itulah sebabnya ancaman rasionalisasi tenaga kerja kini mulai terdengar di berbagai industri.
Penghematan di sisi produsen lambat laun akan bocor ke harga produk akhir. Jika pengusaha dipaksa menaikkan harga untuk mempertahankan margin, daya beli masyarakat akan melemah dan inflasi akan merangkak naik—terutama pada produk impor dan barang yang intensif menggunakan bahan baku dari luar negeri.
Sarman mengingatkan bahwa skenario terburuk bukan hanya terjadi sekali, melainkan efek berantai. Omzet perusahaan tertekan ? efisiensi biaya dikejar ? lapangan kerja berkurang ? konsumsi masyarakat menurun ? demand industri semakin lesu ? perusahaan makin kepepet berbuat rasionalisasi.
Organisasi pengusaha mendesak pemerintah dan bank sentral untuk segera mengambil langkah penguatan rupiah. Sarman menyatakan dukungan penuh terhadap setiap upaya stabilisasi nilai tukar, dengan harapan tekanan ini tidak berlanjut hingga memaksa perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja dalam skala besar.
Tanpa intervensi cepat, pelemahan rupiah yang berkepanjangan akan mengubah lanskap tenaga kerja dan mengurangi kesejahteraan masyarakat luas. Sektor UMKM, yang menyerap jutaan pekerja, akan menjadi garis depan ancaman ini.